Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label ocehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ocehan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juli 2017

Mona Vanderwaal : My Favorite Character from Pretty Little Liars




Aku selalu suka dengan tokoh antihero, mereka jauh lebih menantang untuk diciptakan dan menarik untuk dinikmati. Satu lagi tokoh antihero yang mencuri perhatianku adalah Mona Vanderwaal (diperankan oleh Janel Parrish) dari serial Pretty Little Liars. Mona adalah seorang remaja yang kutu buku dan tidak punya teman sama sekali. Dia selalu sendiri dan selalu jadi bahan bulyan, dia adalah salah satu korban bulynya Alison. Karena tidak terima selalu menjadi bahan bulyan, Mona mulai meneror Alison dengan menggunakan inisial “A”. Beruntung bagi Mona, pada suatu malam terjadi sebuah tragedi di keluarga Alison yang melibatkan dua pembunuhan yang rumit. Alison menjadi salah satu korbannya, tapi tanpa sepengetahuan siapa pun Alison selamat. Mona yang cerdas dan entah bagaimana bisa serba tahu menolong Alison untuk pergi meninggalkan kota, pura-puranya mau menyelamatkan padahal itu sudah bagian dari rencananya untuk menyingkirkan Alison jauh-jauh.

Setelah kepergiannya, grup yang dibentuk Alison bubar. Grup itu terdiri dari Spencer, Emily, Hanna dan Aria. Keempat gadis ini bukan siapa-siapa, hanya murid SMA biasa, tidak ada yang spesial. Namun Alison melihat keistimewaan mereka, dia merekrut keempat gadis itu untuk menjadi pelindung dan penolongnya. Alison sadar dia punya banyak musuh, dia butuh teman-teman yang setia yang bisa membantunya, karena itulah dia memilih keempat gadis ini. Dia menyatukan mereka dengan cara yang licik, yaitu mencaritahu rahasia mereka dan menjadikannya jaminan. Namun berkat Alison, keempat gadis itu jadi terkenal di sekolah. Dan setelah kepergian Alison, mereka kembali pada kehidupan masing-masing. Di sini Mona mengambil peran. Dia mendekati Hanna, bersama-sama mereka bertransformasi dari gadis biasa menjadi gadis populer. Mereka menjadi sahabat yang tak terpisahkan sampai.... Polisi menemukan mayat yang dinyatakan sebagai Alison. Malam ketika Alison menghilang, kebetulan keempat gadis itu sedang berkumpul di lumbung milik keluarga Spencer, dan kebetulan juga Spencer sama Alison rumahnya bersebelahan. Banyak hal terjadi malam itu, tapi hanya keempat gadis ini yang dengan polosnya menunjukkan kalau mereka adalah yang terakhir melihat Alison. Kasus kematian Alison membuat keempat gadis ini bersatu lagi, dan itu membuat Mona tidak suka. Hanna jadi lebih sering meluangkan waktu bersama Spencer, Emily dan Aria, Mona merasa Hanna telah dicuri darinya. Dia pun kembali muncul sebagai “A” dengan maksud untuk memecahbelah grup bentukan Alison itu. Tapi sayang, sampai akhirnya identitas dia terungkap, taktik teror yang ia gunakan terhadap Alison tidak begitu mempan pada keempat gadis itu. 

Saat tahu Mona adalah “A”, Hanna sangat marah. Dia benar-benar merasa dikhianati, apalagi Mona menculik Spencer. Hanna sudah bersiap untuk menabraknya, tapi tidak jadi. Kemudian terjadi baku hantam antara Mona dan Spencer yang berakhir Mona jatuh ke jurang. Secara fisik dia bisa diselamatkan, tetapi tidak secara jiwa. Akhirnya dia dimasukkan ke dalam RSJ. Selama ia di RSJ hanya Hanna satu-satunya teman yang rajin mengunjunginya, dan ternyata hal itu membuatnya menjadi lebih cepat stabil. Ketika dia akhirnya sudah ‘waras’, dia berniat melanjutkan misinya untuk memisahkan grup bentukan Alison. Saat itulah dia direkrut oleh “A” yang baru. Kali ini misinya lebih keji. Namun di tengah-tengah misi Mona menarik diri dari tim “A” dan mulai membantu Hanna dkk. Dia tidak tega jika harus menyakiti Hanna, karena cuma Hanna yang peduli padanya. Lalu muncullah Alison, dia kembali setelah pelariannya selama setahun. Dengan susah payah dan penuh konflik, keenam orang ini bekerjasama untuk mencaritahu siapa “A”. Tapi bahkan dengan bantuan Mona sekali pun, si “A” yang baru ini rupanya lebih ‘edan’ dari Mona. Mereka terjerat perangkap sendiri. Mona menghilang dengan meninggalkan banyak jejak darah dan akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia, sementara semua bukti-bukti mengarah pada Alison. Lalu bukti-bukti yang lain ikut menyeret keempat temannya. 

Setelah dinyatakan bersalah karena telah membantu Alison melakukan pembunuhan, Spencer, Emily, Hanna dan Aria dibawa ke penjara. Namun di tengah jalan mobil tahanan mereka dibajak dan keempat gadis itu diculik oleh “A”. Mereka dibawa ke ‘rumah boneka’ dan di sanalah mereka bertemu dengan Mona yang telah dulu menjadi tahanan “A”. Dengan informasi yang dimiliki Mona tentang tempat itu, mereka kembali bekerjasama bahu-membahu untuk keluar. Butuh 3 minggu penyiksaan hingga akhirnya mereka bisa kabur dari tempat itu. Tapi sayangnya “A” berhasil lolos, identitasnya baru terungkap saat prom night. 

Lima tahun kemudian, setelah semua tragedi berlalu, Alison mengirim surat pada keempat teman-temannya yang sudah pada merantau. Ia meminta mereka agar pulang ke Rosewood untuk memberikan kesaksian agar kakak sepupunya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah si “A” yang mengurung dan menyiksa mereka di ‘rumah boneka’, bisa dikeluarkan dari RSJ. Kakak sepupunya Alison tersebut, yang bernama Charles alias Charlotte alias Cece, sudah dirawat selama lima tahun dan secara medis dinyatakan ‘waras’, namun pengadilan membutuhkan kesaksian dari para korban bahwa mereka setuju agar Charlotte dibebaskan. Demi Alison, teman-temannya bersedia membantu. Namun malang nasibnya, baru semalam keluar dari RSJ tubuh Charlotte ditemukan tewas di samping gereja. Hasil penyelidikan menyatakan dia dipukul oleh besi panjang berongga dan membuatnya terjatuh dari menara lonceng. Setelah itu teror kembali terjadi. Kali ini si peneror berinisal “AD”. Si AD ini mencurigai bahwa salah satu di antara Alison dan teman-temannya adalah pembunuh Charlotte, dan dengan jeniusnya dia menciptakan permainan di antara mereka. Sekali lagi, Hanna meminta bantuan Mona untuk memenangkan permainan itu. Di sinilah uniknya persahabatan mereka. Di saat-saat genting Hanna justru mengandalkan Mona, dan meskipun tidak disukai oleh yang lain, Mona tetap setia dan suka rela membantu Hanna. Sangat tersirat Hanna lebih mempercayai Mona daripada teman-temannya. Bahkan ketika yang lain mulai curiga bahwa Mona adalah AD, Hanna satu-satunya yang tetap percaya Mona sudah berubah. Dia yakin Mona tidak akan mengkhianatinya lagi. Akhirnya Mona menyerah, dia mengaku bahwa dialah yang membunuh Charlotte secara tidak sengaja. Mereka terlibat pertengkaran, Mona mendorong Charlotte hingga ia menghantam tembok dan lehernya tertancap pada besi berongga. Setelah itu baru Mona mendorongnya. Setelah Mona mengaku teror pun berakhir, dan identitas AD masih misteri. 

Identitas AD baru terkuak satu tahun setelahnya, dan Mona tidak terlalu banyak berperan di sini kecuali pada bagian penutup. Diceritakan Mona tinggal di Perancis, mungkin Paris, dia memiliki sebuah toko boneka. Dari luar tidak ada yang mencurigakan, tapi di lantai bawah tanah, Mona menyimpan kemenangannya. Dia menciptakan ‘rumah boneka’ yang dihuni oleh AD dan MD (ibunya AD), dan Mona tampak puas bisa ‘bermain’ dengan mereka. Dan ini adalah dialog terbaik yang menggambarkan kemenangan Mona.

MD : she can’t keep us here forever.
AD : of course she can, she’s Mona.



Karakter Mona Vanderwaal ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Dia jelas masuk dalam daftar my fav villain. Dia bisa dikategorikan sebagai seorang psikopat, yang bisa melakukan apa saja demi mewujudkan obsesinya. Emosinya tidak bisa ditebak. Satu hal yang membuat dia berbeda dari karakter psikopat lainnya adalah kesetiaannya pada Hanna, satu-satunya sahabat yang peduli padanya. Dia bisa keji pada yang lainnya, tapi tidak pada Hanna. Dan itu menjadi konflik tersendiri baginya, karena Hanna adalah salah satu teman Alison, musuhnya. Pada dasarnya serial ini memang menceritakan tentang persahabatan yang rumit dan pertarungan antar psikopat. Cuma sayang latar belakang Mona tidak diceritakan lebih detail, seperti keluarga atau masa kecilnya yang bisa mendukung sifat jahatnya menjadi lebih emosional. Dia satu-satunya peneror yang tidak diceritakan masa lalunya, tidak seperti Charlotte dan AD yang diceritakan sangat detail. Sehingga asal muasal gangguan jiwanya kurang mantap. Karena bulyan yang ia terima itu hanyalah pemicu bukan penyebab. Satu lagi yang kurang adalah kisah cintanya dengan Mike, tidak diekspos lagi setelah pertengahan season 6. Padahal kisah cinta mereka cukup unik, dan lumayan memberikan dampak secara emosional pada karakter Mona. Ah, tiba-tiba aku tertarik untuk membuat cerita fanfic tentang Mona dan Mike. Hahaha.... Mungkin nanti. Karakter Mona ini benar-benar sangat menarik untuk dikembangkan. 

She can do anything, she’s Mona.



Jumat, 11 September 2015

Berakit Ke Hulu

Gambar di samping adalah sebuah jalan desa yang gue n sahabat gue temuin ketika berpetualang mencari pantai di Malang. Di kedua sisi jalan itu ada tambak dengan air yang melimpah yang ngeliatnya aja bikin seger. Jalan ini kami temukan setelah melewati medan yang sempit, berliku, terjal dan berbatu-batu. Kebetulan uni Devy yang nyetir saat itu (jarang-jarang nih gue manggil uni hahahaha....) Dia udah ngeluh sepanjang jalan itu, tapi gue bilang kalo jalannya susah begini hasilnya harus indah banget nanti di depan. Dan tadaaaaaa ketemu jalan ini langsung berhenti (di tengah jalan), turun dan mengabadikannya. Keren kan? Tidak lama setelah melewati jalan ini sampai juga kami di barisan pantai Malang yang masih perawan (belum banyak pengunjung). Tapi perjuangannya itu lhooooo harus melewati jalan setapak, mendaki bukit, turuni lembah, melintas hutan. Mana panas pulaaaa, gue udah hampir menyerah di awal tapi sang sahabat tercinta ini (uni Devy) meraih tangan gue n mengembalikan kata-kata gue. "Kalo jalannya berat, pantainya pasti indah banget." Semangat gue pun terbakar kembali. Yaitulah sahabat selalu menyemangati. 

Like a small boat
On the ocean
Sending big waves
Into motion
Like how a single word
Can make a heart open
I might only have one match
But I can make an explosion

Pelajaran yang dapat dipetik pada perjalanan itu adalah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Kalo kata orang londo "no pain no gain." Perjalanan singkat yang membuat gue susah jalan selama dua hari itu adalah sebuah penggambaran singkat tentang apa yang sedang gue jalani sekarang. Gue udah terlalu lama bersenang-senang dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Menukar semua mimpi dan ambisi untuk kebahagian materi yang berujung pada titik jenuh. Gue menyia-nyiakan usia 20an gue begitu aja. Tapi gak nyesel sih, karena gue sadar emang seperti itulah jalan yang Allah kasih buat gue supaya gue bisa melihat dunia dari kacamata yang berbeda. Supaya gue mendapatkan pelajaran yang sangat berharga kalau hidup ini bukan sekedar hidup. Hidup punya tujuan dan hidup haruslah bermanfaat. 

Losing friends and I'm chasing sleep
Everybody's worried about me
In too deep
Say I'm in too deep (in too deep)
And it's been two years
I miss my home
But there's a fire burning in my bones
Still believe
Yeah, I still believe

Gue sering denger orang bilang kesempatan tidak datang dua kali. Menurut gue itu salah, kesempatan selalu datang berkali-kali, kitanya yang sering (hampir selalu) untuk takut mengambilnya. Tanpa sadar ada banyak alasan pembenaran yang keluar untuk menghibur diri. Tapi masa-masa kegelapan itu sudah berlalu, sekarang gue memasuki masa pencerahan. Masa di mana gue berani mengambil segala resiko demi merubah hidup sesuai kehendak gue, dan yang lebih penting lagi sesuai ridho dan restu orang tua. Mengingat waktu muda dulu (sekarang juga masih muda cuma gak remaja lagi ajah) gue sering melanggar perkataan mereka dan tidak mau menuruti apa pun nasehat mereka, yang baru gue sadari sekarang itu semua demi kebaikan gue sendiri. Yaudahlah ya masa lalu, sekarang saatnya menatap masa depan.

And all those things I didn't say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them loud tonight
Can you hear my voice this time?

Kurang lebih seminggu yang lalu gue nonton "Islam Itu Indah" sambil ngeteh n memecahkan kasus di Criminal Case dan mengurus pertanian di Hay Day. Nah, si pak ustat berkata "anak harus lebih dari orang tua." Nyentil banget itu. Gue emang pernah (dulu waktu masih remaja) bercita-cita ingin menjadi orang yang lebih hebat dari bokap gue. Secara bagi gue bokap gue itu hebat banget (di bidangnya ya). Kan gue jadi mikir masa bapaknya sukses anaknya begini-begini aja? Jadi, ketika kesempatan yang lama ditunggu itu datang, kalo mau pake bahasa yang puitis kesempatan itu bagaikan hujan yang turun setelah musim kemarau yang sangat panjaaaaang (gak puitis juga sih tapi ya begitulah intinya). Saatnya merubah hidup, mengembalikan diri gue yang dulu. Dan ya sekarang gue bener-bener merasa sangat hidup.

This is my fight song
Take back my life song
Prove I'm alright song
My power's turned on
Fight now I'll be strong
I'll play my fight song
And I don't really care if nobody else believes
'Cause I've still got a lot of fight left in me

Jadi inilah kesempatan kedua gue. 
  
Kuliah sudah berjalan tiga minggu dan gue merasa sangat hidup dan penuh semangat, walau badannya masih menyesuaikan diri dengan rutinitas kuliah-kerja dengan tidak ada libur satu hari pun. Di tambah otak yang udah lama beku masih dalam tahap pemanasan. Gue juga gak tahu apa yang akan menanti atau menghadang gue di depan sana, tapi kali ini gue gak akan menyerah seperti sebelum-sebelumnya, gue gak akan takut dan menghidar demi menyelamatkan diri di zona nyaman. Kali ini gue siap berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Karena perjalan yang berat akan berakhir pada tujuan yang hebat. 

Yupz... This is a fight, to get my life back, and I'll be alraight because my power is turned on, starting now I'll be strong. I've still got a lot of fight left ini me. (Fight Song by Rachel Platten).

頑張ります。。。

Kamis, 21 Mei 2015

Yes, I am an Introvert!

Sering dengar istilah introvert tapi belum benar-benar paham apa maksudnya. Setiap mendengar istilah itu biasanya yang tergambar dalam pikiran saya adalah orang yang susah bergaul dan amat sangat tertutup dan pemalu. Tapi ternyata tidak juga. 

Dari hasil berselancar di Google Academy berikut adalah ciri-ciri seorang introvert, yang ternyata sangat cocok dengan kepribadian saya. 



1. Senang menyendiri
    Saya sangat suka menyendiri. Saya bisa melakukan apa saja sendirian selama  saya mau. Kesepian? Tentu tidak. Definisi kesepian bagi saya adalah ketika saya meluangkan waktu bersama orang yang salah. Salah bagaimana? Salah dalam hal kenyamanan. Jadi sendiri jauh lebih nyaman bagi saya. Nonton film sendirian di bioskop, makan sendirian di restoran, nongkrong sendirian di kedai kopi,  berautis ria di toko buku, semua itu tidak masalah bagi saya. I TOTALLY enjoy it. Di rumah pun saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, biasanya menulis, membaca, ngegame. Keluar kamar kalau makan, nonton film, ke kamar mandi, dipanggil orang tua. I just love being alone. 

2. Pemikir, pemalu, dan pendiam
     Saya adalah orang yang tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya selalu sibuk dengan banyak hal. Saking sibuknya terkadang sampai membuat aktifitas fisik saya terhenti, dan biasanya orang lain akan mengira saya lagi bengong alias melamun. Saya sangat pemalu. Malu untuk menyapa duluan, malu untuk bertanya (untung nggak pake sesat di jalan), malu untuk berbicara (atas keinginan sendiri bukan karena harus), yang semua itu tidak menutup kemungkinan orang akan berpikir saya sombong. Saya pendiam, dan hanya cerewet pada orang-orang tertentu saja. Semua orang yang baru kenal saya sudah dipastikan akan menilai kalau saya pendiam dan serius.

3. Lebih senang bekerja sendiri
     Efek dari senang menyendiri adalah senang bekerja sendiri. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja dalam tim, saya hanya merasa lebih nyaman bekerja sendiri. Kenapa? Hampir sama alasannya dengan senang menyendiri. Dari pada harus berpartner dengan orang yang tidak cocok dengan cara kerja saya, lebih baik kerja sendiri saja. Tapi kalau partnernya cocok ya tidak masalah. Namun jika seandainya diberi pilihan, saya akan lebih memilih pekerjaan yang tidak berpartner.

4. Pemilih dalam berteman
    Saya terbuka untuk berkenalan dengan siapa saja, tapi untuk berteman sejak kecil saya sudah pemilih. Teman aja milih apalagi jodoh ya (curcol). Kriteria seperti apa yang saya pilih sebagai teman? Tidak ada kriteria khusus sih, yang penting sreg di hati. Tapi biasanya orang-orang yang bisa berteman dengan saya adalah mereka yang doyan makan, jalan-jalan, nonton, becanda, nggak jaim, nggak gampang tersinggung. Jujur, teman saya sedikit, tapi alhamdulillah mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangan, adalah teman-teman yang baik. Kualitas lebih penting dibanding kuantitas, kan? ^_^ 

5. Lebih senang mendengarkan dari pada bercerita
     Sejak dulu saya selalu menjadi pendengar yang baik. Dalam situasi umum saya lebih suka mendengarkan dari pada menceritakan, apalagi jika berada dalam kelompok yang besar. Rasanya malas aja untuk berbagi cerita dengan orang banyak. Nggak enak gitu rasanya. Aneh? Ya begitulah. :D

6. Tidak suka keramaian
     Saya kurang suka berada di tempat-tempat yang ramai atau banyak sekali manusianya (kecuali jika suatu saat nanti saya naik haji, amin). Kepala saya rasanya langsung pusing kalau lihat manusia melimpah ruah. Apalagi kalau lihat jalanan penuh dengan pengendara motor, rasanya ingin melambaikan tangan ke kamera. Nggak sanggup :(( Saya lebih suka tempat-tempat yang tenang dan tidak banyak orang. Rasanya tuh damai dan membangkitkan semangat.

7. Lebih suka berinteraksi langsung dengan individu 
     Masih ada hubungannya dengan pendiam dan pendengar yang baik, dua hal itu hanya berlaku dalam situasi umum atau kelompok besar. Dalam situasi khusus atau kelompok kecil (bersama 1 atau 2 orang) saya akan menjadi orang yang banyak bercerita. Terlebih lagi jika lawan bicara saya itu adalah sahabat yang tahu segalanya tentang saya. Silakan tanya, mereka akan bilang saya cerewet. Hehehe.... Saya tidak butuh banyak teman untuk merasa terhibur,  cukup satu atau dua orang sahabat untuk diajak ngopi bareng. Sahabat oh sahabat, teman aja milih apalagi sahabat. ;p 

Yah, itulah kurang lebih ciri-ciri introvert yang melekat pada diri saya. Ya, saya memang introvert, begitulah adanya saya, dan saya merasa sangat nyaman dengan diri saya. Itu yang penting, nyaman dengan diri sendiri, jadi diri sendiri. Bukan begitu betul? 

Sabtu, 11 April 2015

Girl Crush, Ketika Seorang Perempuan Mengagumi Perempuan Lain



Girl Crush, rasanya senang sekali menemukan istilah ini. Akhirnya ada juga sebuah ungkapan yang bisa menggambarkan salah satu jenis "kekaguman" yang sebelumnya harus dijelaskan panjang lebar. Apa itu girl crush? Girl crush adalah sebuah perasaan suka atau kagum seorang perempuan terhadap perempuan lainnya. Bisa karena kecantikannya, kepandaiannya, kepribadiannya, gayanya, cara bicaranya, dan lain sebagainya. Tapi ketertarikan atau kekaguman ini tidak bermuatan seksual atau bernuansa romantis, benar-benar 100% kagum. Atau istilah lainya mengidolakan.

Kenapa saya senang dengan lahirnya istilah yang berasal dari negeri Paman Sam ini? Karena entah bagaimana sejak kecil saya selalu lebih menyukai tokoh wanita dibandingkan pria. Saya lebih suka cerita yang jagoannya perempuan, atau kalau pun bukan jagoan ada sosok perempuan yang memberi pengaruh besar pada alur cerita. Saya lebih mengagumi aktris dengan kemampuan akting tinggi dibandingkan aktor yang dinobatkan sebagai pria paling ganteng seplanet bumi. Mata saya lebih berbinar menyaksikan seniman perempuan yang piawai memainkan alat musik atau berkarya di bidangnya, dibanding melihat seniman-seniman pria yang ketika beraksi disoraki para kaum hawa. Saya lebih menggemari girlband dibanding boyband. 

Apa alasannya saya lebih menyukai tokoh perempuan dibandingkan laki-laki? Karena saya adalah seorang perempuan yang punya mimpi. Saya adalah seorang perempuan yang punya ambisi dan cita-cita. Melihat kesuksekan para tokoh perempuan itu memberikan penyemangat sendiri bagi saya. Walau agak terlambat menyadari tapi saya selalu berkata pada diri sendiri "gw juga bisa mencapai level itu di bidang gw." Ya, saya terlambat menyadari kalau sebatas kagum saja tidak cukup, saya harus mencontoh dengan segera dan bukannya tenggelam dalam mimpi-mimpi kosong. Saatnya saya bangun dan mewujudkan mimpi itu, dengan penuh kesabaran dan kerja keras. Mereka juga tidak mendapatkannya secara instan. 

Lagi pula, menurut saya, jika kita (perempuan) mengagumi tokoh pria batasannya hanya sekedar "andai aku bisa jadi pasangannya," yang maaf ini cuma khayalan dan membosankan. Saya lebih suka pria yang nyata bisa saya miliki ketimbang cuma sekedar khayalan. Hehehe... Tapi ketika kita (perempuan) mengagumi tokoh perempuan lainnya maka batasanya lebih luas, karena banyak aspek yang bisa dijadikan inspirasi, dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik, "aku ingin menjadi seperti dia." Kalimat ini jauh lebih bersemangat dan nyata.

Saya ambil contoh diri sendiri saja. Ketika saya mengagumi seorang perempuan, yang ada dalam pikiran saya adalah saya ingin berkenalan dengannya, menjadi temannya, mengobrol berbagi pikiran dengannya. Saya ingin menilai apakah kapasitas saya sudah menyamainya, saya ingin mendengar kisahnya dan memetik pelajaran darinya. Saya pribadi sih merasa tidak ada yang salah dengan itu, tapi namanya manusia lebih banyak yang berpikiran negatif ketimbang positif. Rasanya terlalu naif jika kagum disamakan dengan naksir, atau suka disamakan dengan cinta, atau menggemari disamakan dengan tetarik secara seksual. I wanna be like her, I wanna be her friend, NOT I wanna be with her. 

Jadi kekaguman seorang perempuan terhadap perempuan lainnya, dalam hal ini tokoh publik, adalah sebagai bentuk visualisasi keinginan diri untuk menjadi perempuan yang diinginkan, yang tentu dapat memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri. Entah dengan orang lain, tapi itu yang saya rasakan.

Setelah mengetahui ini adalah hal yang wajar, saya jadi tidak merasa aneh lagi. Hahaha... Tidak ada salahnya mengagumi sesuatu yang lebih indah dari kita, bukan?

Ini sumber ide dari ocehan saya di atas:
http://articles.baltimoresun.com/2005-10-09/news/0510070442_1_crushes-popular-girl-admire

Senin, 06 April 2015

Flu dan Susu Jahe

Saya ini kalau sudah kena flu yang mengkombinasikan batuk dan pilek pasti lama banget sembuhnya, apalagi kalau dalam kondisi lelah alias tidak bugar. Bisa satu bulan gak sembuh-sembuh, dan itu rasanya amat sangat membosankan. Apa yang bikin bosan? Pertama, minum obat. Kedua, tidak minum dingin. 

Meskipun saya ini anak dokter, tapi saya tidak suka ngobat. Selama saya belum merasa sangat terganggu dengan si penyakit, saya gak mau deket-deket sama obat. Tapi namanya ibu pasti tidak bisa tinggal diam, beliau akhirnya meracik obat flu khusus yang tidak mengandung obat tidur. Tiga kali sehari dalam dua minggu saya mengonsumsi obat istimewa itu, hasilnya kurang membahagiakan. Bu dokter tidak menyerah, beliau beralih pada resep tradisional. Kencur pada pagi hari, jeruk nipis pada malam hari. Satu minggu kemudian si flu mereda, tapi belum benar-benar sembuh, dan saya sudah bosan. Kencur itu getir dan jauh dari rasa enak. 

Jeda tiga minggu si flu menyerang lagi, ditambah saya masuk angin dan kecapekan, si flu tampaknya tertawa girang. Kali ini akan saya hadapi dengan cara saya sendiri. Naluri saya berkata saya harus minum susu jahe. Karena tidak banyak yang jual versi asli, saya beli versi instannya. Saya minum tiap malam sebelum tidur. Bagaimana khasiatnya? Pertama, tidur lebih cepat dan nyenyak. Kedua, flu mereda drastis dalam waktu empat hari.  Mereda ya bukan sembuh total. Hehehe....  Tapi yang pasti rasanya enyaaak.... 

Catatan tambahan, gambar di atas itu adalah tampilan penyajian yang unik ala House of Raminten di Jogja. Untuk segala jenis minuman yang mengandung susu mereka sajikan dalam cangkir berputing. Tentu saja yang ada di gambar itu adalah susu jahe pesanan saya. 

Sabtu, 21 Februari 2015

Bibit Bebet Bobot Itu Penting

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya jawa, saya selalu diyakinkan untuk memperhatikan bibit-bebet-bobot jika ingin mencari jodoh kelak. Kemudian, sebagai orang yang merasa berpikiran modern, perihal 3B itu kuno dan gak penting. Mencari jodoh dengan kriteria seperti itu rasanya mustahil karena tidak ada yang sempurna. Tapi... Pengalaman berkata lain. 

Dari dulu saya selalu yakin bahwa jodoh yang baik adalah yang agamanya bagus. Calon suami yang baik adalah laki-laki yang bisa membimbing saya dalam hal agama. Pokoknya agama nomor satu. Pendapat ini benar, tapi agama yang bagus saja tidak cukup. Karena sekali lagi, tidak ada yang sempurna. Di sinilah faktor 3B tadi diperlukan. 

Kalau kita renungkan lagi, adalah sangat wajar jika orang tua menuntut 3B ini dari calon jodoh kita. Karena mereka sendiri telah susah payah merawat, mendidik, dan membesarkan kita agar kita menjadi manusia yang "berbobot". Selain itu terkadang orang tua kita juga suka kepo dengan siapa saja kita berteman, bagaimana pergaulan kita di sekolah, di kampus, di kantor. Ketakutan terbesar mereka adalah jika kita salah memilih teman, salah bergaul, yang akhirnya membuat nilai "bebet" kita berkurang. Nah, jadi masuk akal kan kenapa orang tua selalu cerewet masalah jodoh?

Seperti yang saya bilang di atas, pengalaman mengajarkan bahwa bibit-bebet-bobot sangat diperlukan. Bukan sebagai standar nilai, tapi sebagai panduan untuk memilih. 

Bibit adalah faktor yang paling utama, karena dari sanalah semua berasal. Keluarga. Keluarga calon pasangan kita harus jelas. Bukan jelas ningrat ya, tapi jelas keberadaanya. Dia dibesarkan oleh siapa? Orang tua kandung, orang tua angkat, paman bibi, kakek nenek? Siapa pun yang merawat dan membesarkannya harus jelas keberadaanya, dan di mana tinggalnya. Intinya kita harus tahu dia dibesarkan di keluarga seperti apa, karena latar belakang keluarga ini adalah dasar pembentukkan kepribadiannya. Kira-kira ngematch gak sama kita?

Faktor yang kedua adalah bebet. lni adalah saatnya kita mencari tahu dengan siapa dia bergaul. Siapa sahabatnya? Seperti apa teman-temannya? Apa saja kegiatannya di luar sana? Apakah kita bisa ngeblend dengan kehidupan sosial masing-masing? 

Terakhir adalah bobot, ini yang paling menentukan masa depan. Di sinilah hati berbicara. Bobot adalah kepribadian dan kualitas diri seseorang. Sifatnya, perangainya, pembawaannya, pendidikannya, serta pekerjaanya. Pada tahap inilah "selera" berbicara, dan benar-benar harus memilih dengan hati. 

Kesimpulannya, Bibit Bebet Bobot memang penting sebagai panduan untuk memilih jodoh. Saya sendiri akan memperhatikan hal ini dengan baik mulai sekarang. Tidak mau lagi salah pilih. Jadi kapan kawin? Hahaha....