Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Berakit Ke Hulu

Gambar di samping adalah sebuah jalan desa yang gue n sahabat gue temuin ketika berpetualang mencari pantai di Malang. Di kedua sisi jalan itu ada tambak dengan air yang melimpah yang ngeliatnya aja bikin seger. Jalan ini kami temukan setelah melewati medan yang sempit, berliku, terjal dan berbatu-batu. Kebetulan uni Devy yang nyetir saat itu (jarang-jarang nih gue manggil uni hahahaha....) Dia udah ngeluh sepanjang jalan itu, tapi gue bilang kalo jalannya susah begini hasilnya harus indah banget nanti di depan. Dan tadaaaaaa ketemu jalan ini langsung berhenti (di tengah jalan), turun dan mengabadikannya. Keren kan? Tidak lama setelah melewati jalan ini sampai juga kami di barisan pantai Malang yang masih perawan (belum banyak pengunjung). Tapi perjuangannya itu lhooooo harus melewati jalan setapak, mendaki bukit, turuni lembah, melintas hutan. Mana panas pulaaaa, gue udah hampir menyerah di awal tapi sang sahabat tercinta ini (uni Devy) meraih tangan gue n mengembalikan kata-kata gue. "Kalo jalannya berat, pantainya pasti indah banget." Semangat gue pun terbakar kembali. Yaitulah sahabat selalu menyemangati. 

Like a small boat
On the ocean
Sending big waves
Into motion
Like how a single word
Can make a heart open
I might only have one match
But I can make an explosion

Pelajaran yang dapat dipetik pada perjalanan itu adalah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Kalo kata orang londo "no pain no gain." Perjalanan singkat yang membuat gue susah jalan selama dua hari itu adalah sebuah penggambaran singkat tentang apa yang sedang gue jalani sekarang. Gue udah terlalu lama bersenang-senang dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Menukar semua mimpi dan ambisi untuk kebahagian materi yang berujung pada titik jenuh. Gue menyia-nyiakan usia 20an gue begitu aja. Tapi gak nyesel sih, karena gue sadar emang seperti itulah jalan yang Allah kasih buat gue supaya gue bisa melihat dunia dari kacamata yang berbeda. Supaya gue mendapatkan pelajaran yang sangat berharga kalau hidup ini bukan sekedar hidup. Hidup punya tujuan dan hidup haruslah bermanfaat. 

Losing friends and I'm chasing sleep
Everybody's worried about me
In too deep
Say I'm in too deep (in too deep)
And it's been two years
I miss my home
But there's a fire burning in my bones
Still believe
Yeah, I still believe

Gue sering denger orang bilang kesempatan tidak datang dua kali. Menurut gue itu salah, kesempatan selalu datang berkali-kali, kitanya yang sering (hampir selalu) untuk takut mengambilnya. Tanpa sadar ada banyak alasan pembenaran yang keluar untuk menghibur diri. Tapi masa-masa kegelapan itu sudah berlalu, sekarang gue memasuki masa pencerahan. Masa di mana gue berani mengambil segala resiko demi merubah hidup sesuai kehendak gue, dan yang lebih penting lagi sesuai ridho dan restu orang tua. Mengingat waktu muda dulu (sekarang juga masih muda cuma gak remaja lagi ajah) gue sering melanggar perkataan mereka dan tidak mau menuruti apa pun nasehat mereka, yang baru gue sadari sekarang itu semua demi kebaikan gue sendiri. Yaudahlah ya masa lalu, sekarang saatnya menatap masa depan.

And all those things I didn't say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them loud tonight
Can you hear my voice this time?

Kurang lebih seminggu yang lalu gue nonton "Islam Itu Indah" sambil ngeteh n memecahkan kasus di Criminal Case dan mengurus pertanian di Hay Day. Nah, si pak ustat berkata "anak harus lebih dari orang tua." Nyentil banget itu. Gue emang pernah (dulu waktu masih remaja) bercita-cita ingin menjadi orang yang lebih hebat dari bokap gue. Secara bagi gue bokap gue itu hebat banget (di bidangnya ya). Kan gue jadi mikir masa bapaknya sukses anaknya begini-begini aja? Jadi, ketika kesempatan yang lama ditunggu itu datang, kalo mau pake bahasa yang puitis kesempatan itu bagaikan hujan yang turun setelah musim kemarau yang sangat panjaaaaang (gak puitis juga sih tapi ya begitulah intinya). Saatnya merubah hidup, mengembalikan diri gue yang dulu. Dan ya sekarang gue bener-bener merasa sangat hidup.

This is my fight song
Take back my life song
Prove I'm alright song
My power's turned on
Fight now I'll be strong
I'll play my fight song
And I don't really care if nobody else believes
'Cause I've still got a lot of fight left in me

Jadi inilah kesempatan kedua gue. 
  
Kuliah sudah berjalan tiga minggu dan gue merasa sangat hidup dan penuh semangat, walau badannya masih menyesuaikan diri dengan rutinitas kuliah-kerja dengan tidak ada libur satu hari pun. Di tambah otak yang udah lama beku masih dalam tahap pemanasan. Gue juga gak tahu apa yang akan menanti atau menghadang gue di depan sana, tapi kali ini gue gak akan menyerah seperti sebelum-sebelumnya, gue gak akan takut dan menghidar demi menyelamatkan diri di zona nyaman. Kali ini gue siap berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Karena perjalan yang berat akan berakhir pada tujuan yang hebat. 

Yupz... This is a fight, to get my life back, and I'll be alraight because my power is turned on, starting now I'll be strong. I've still got a lot of fight left ini me. (Fight Song by Rachel Platten).

頑張ります。。。

Kamis, 21 Mei 2015

Yes, I am an Introvert!

Sering dengar istilah introvert tapi belum benar-benar paham apa maksudnya. Setiap mendengar istilah itu biasanya yang tergambar dalam pikiran saya adalah orang yang susah bergaul dan amat sangat tertutup dan pemalu. Tapi ternyata tidak juga. 

Dari hasil berselancar di Google Academy berikut adalah ciri-ciri seorang introvert, yang ternyata sangat cocok dengan kepribadian saya. 



1. Senang menyendiri
    Saya sangat suka menyendiri. Saya bisa melakukan apa saja sendirian selama  saya mau. Kesepian? Tentu tidak. Definisi kesepian bagi saya adalah ketika saya meluangkan waktu bersama orang yang salah. Salah bagaimana? Salah dalam hal kenyamanan. Jadi sendiri jauh lebih nyaman bagi saya. Nonton film sendirian di bioskop, makan sendirian di restoran, nongkrong sendirian di kedai kopi,  berautis ria di toko buku, semua itu tidak masalah bagi saya. I TOTALLY enjoy it. Di rumah pun saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, biasanya menulis, membaca, ngegame. Keluar kamar kalau makan, nonton film, ke kamar mandi, dipanggil orang tua. I just love being alone. 

2. Pemikir, pemalu, dan pendiam
     Saya adalah orang yang tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya selalu sibuk dengan banyak hal. Saking sibuknya terkadang sampai membuat aktifitas fisik saya terhenti, dan biasanya orang lain akan mengira saya lagi bengong alias melamun. Saya sangat pemalu. Malu untuk menyapa duluan, malu untuk bertanya (untung nggak pake sesat di jalan), malu untuk berbicara (atas keinginan sendiri bukan karena harus), yang semua itu tidak menutup kemungkinan orang akan berpikir saya sombong. Saya pendiam, dan hanya cerewet pada orang-orang tertentu saja. Semua orang yang baru kenal saya sudah dipastikan akan menilai kalau saya pendiam dan serius.

3. Lebih senang bekerja sendiri
     Efek dari senang menyendiri adalah senang bekerja sendiri. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja dalam tim, saya hanya merasa lebih nyaman bekerja sendiri. Kenapa? Hampir sama alasannya dengan senang menyendiri. Dari pada harus berpartner dengan orang yang tidak cocok dengan cara kerja saya, lebih baik kerja sendiri saja. Tapi kalau partnernya cocok ya tidak masalah. Namun jika seandainya diberi pilihan, saya akan lebih memilih pekerjaan yang tidak berpartner.

4. Pemilih dalam berteman
    Saya terbuka untuk berkenalan dengan siapa saja, tapi untuk berteman sejak kecil saya sudah pemilih. Teman aja milih apalagi jodoh ya (curcol). Kriteria seperti apa yang saya pilih sebagai teman? Tidak ada kriteria khusus sih, yang penting sreg di hati. Tapi biasanya orang-orang yang bisa berteman dengan saya adalah mereka yang doyan makan, jalan-jalan, nonton, becanda, nggak jaim, nggak gampang tersinggung. Jujur, teman saya sedikit, tapi alhamdulillah mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangan, adalah teman-teman yang baik. Kualitas lebih penting dibanding kuantitas, kan? ^_^ 

5. Lebih senang mendengarkan dari pada bercerita
     Sejak dulu saya selalu menjadi pendengar yang baik. Dalam situasi umum saya lebih suka mendengarkan dari pada menceritakan, apalagi jika berada dalam kelompok yang besar. Rasanya malas aja untuk berbagi cerita dengan orang banyak. Nggak enak gitu rasanya. Aneh? Ya begitulah. :D

6. Tidak suka keramaian
     Saya kurang suka berada di tempat-tempat yang ramai atau banyak sekali manusianya (kecuali jika suatu saat nanti saya naik haji, amin). Kepala saya rasanya langsung pusing kalau lihat manusia melimpah ruah. Apalagi kalau lihat jalanan penuh dengan pengendara motor, rasanya ingin melambaikan tangan ke kamera. Nggak sanggup :(( Saya lebih suka tempat-tempat yang tenang dan tidak banyak orang. Rasanya tuh damai dan membangkitkan semangat.

7. Lebih suka berinteraksi langsung dengan individu 
     Masih ada hubungannya dengan pendiam dan pendengar yang baik, dua hal itu hanya berlaku dalam situasi umum atau kelompok besar. Dalam situasi khusus atau kelompok kecil (bersama 1 atau 2 orang) saya akan menjadi orang yang banyak bercerita. Terlebih lagi jika lawan bicara saya itu adalah sahabat yang tahu segalanya tentang saya. Silakan tanya, mereka akan bilang saya cerewet. Hehehe.... Saya tidak butuh banyak teman untuk merasa terhibur,  cukup satu atau dua orang sahabat untuk diajak ngopi bareng. Sahabat oh sahabat, teman aja milih apalagi sahabat. ;p 

Yah, itulah kurang lebih ciri-ciri introvert yang melekat pada diri saya. Ya, saya memang introvert, begitulah adanya saya, dan saya merasa sangat nyaman dengan diri saya. Itu yang penting, nyaman dengan diri sendiri, jadi diri sendiri. Bukan begitu betul? 

Sabtu, 11 April 2015

Girl Crush, Ketika Seorang Perempuan Mengagumi Perempuan Lain



Girl Crush, rasanya senang sekali menemukan istilah ini. Akhirnya ada juga sebuah ungkapan yang bisa menggambarkan salah satu jenis "kekaguman" yang sebelumnya harus dijelaskan panjang lebar. Apa itu girl crush? Girl crush adalah sebuah perasaan suka atau kagum seorang perempuan terhadap perempuan lainnya. Bisa karena kecantikannya, kepandaiannya, kepribadiannya, gayanya, cara bicaranya, dan lain sebagainya. Tapi ketertarikan atau kekaguman ini tidak bermuatan seksual atau bernuansa romantis, benar-benar 100% kagum. Atau istilah lainya mengidolakan.

Kenapa saya senang dengan lahirnya istilah yang berasal dari negeri Paman Sam ini? Karena entah bagaimana sejak kecil saya selalu lebih menyukai tokoh wanita dibandingkan pria. Saya lebih suka cerita yang jagoannya perempuan, atau kalau pun bukan jagoan ada sosok perempuan yang memberi pengaruh besar pada alur cerita. Saya lebih mengagumi aktris dengan kemampuan akting tinggi dibandingkan aktor yang dinobatkan sebagai pria paling ganteng seplanet bumi. Mata saya lebih berbinar menyaksikan seniman perempuan yang piawai memainkan alat musik atau berkarya di bidangnya, dibanding melihat seniman-seniman pria yang ketika beraksi disoraki para kaum hawa. Saya lebih menggemari girlband dibanding boyband. 

Apa alasannya saya lebih menyukai tokoh perempuan dibandingkan laki-laki? Karena saya adalah seorang perempuan yang punya mimpi. Saya adalah seorang perempuan yang punya ambisi dan cita-cita. Melihat kesuksekan para tokoh perempuan itu memberikan penyemangat sendiri bagi saya. Walau agak terlambat menyadari tapi saya selalu berkata pada diri sendiri "gw juga bisa mencapai level itu di bidang gw." Ya, saya terlambat menyadari kalau sebatas kagum saja tidak cukup, saya harus mencontoh dengan segera dan bukannya tenggelam dalam mimpi-mimpi kosong. Saatnya saya bangun dan mewujudkan mimpi itu, dengan penuh kesabaran dan kerja keras. Mereka juga tidak mendapatkannya secara instan. 

Lagi pula, menurut saya, jika kita (perempuan) mengagumi tokoh pria batasannya hanya sekedar "andai aku bisa jadi pasangannya," yang maaf ini cuma khayalan dan membosankan. Saya lebih suka pria yang nyata bisa saya miliki ketimbang cuma sekedar khayalan. Hehehe... Tapi ketika kita (perempuan) mengagumi tokoh perempuan lainnya maka batasanya lebih luas, karena banyak aspek yang bisa dijadikan inspirasi, dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik, "aku ingin menjadi seperti dia." Kalimat ini jauh lebih bersemangat dan nyata.

Saya ambil contoh diri sendiri saja. Ketika saya mengagumi seorang perempuan, yang ada dalam pikiran saya adalah saya ingin berkenalan dengannya, menjadi temannya, mengobrol berbagi pikiran dengannya. Saya ingin menilai apakah kapasitas saya sudah menyamainya, saya ingin mendengar kisahnya dan memetik pelajaran darinya. Saya pribadi sih merasa tidak ada yang salah dengan itu, tapi namanya manusia lebih banyak yang berpikiran negatif ketimbang positif. Rasanya terlalu naif jika kagum disamakan dengan naksir, atau suka disamakan dengan cinta, atau menggemari disamakan dengan tetarik secara seksual. I wanna be like her, I wanna be her friend, NOT I wanna be with her. 

Jadi kekaguman seorang perempuan terhadap perempuan lainnya, dalam hal ini tokoh publik, adalah sebagai bentuk visualisasi keinginan diri untuk menjadi perempuan yang diinginkan, yang tentu dapat memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri. Entah dengan orang lain, tapi itu yang saya rasakan.

Setelah mengetahui ini adalah hal yang wajar, saya jadi tidak merasa aneh lagi. Hahaha... Tidak ada salahnya mengagumi sesuatu yang lebih indah dari kita, bukan?

Ini sumber ide dari ocehan saya di atas:
http://articles.baltimoresun.com/2005-10-09/news/0510070442_1_crushes-popular-girl-admire