Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

La Belle et la Bête, Tradisional dan Disney

Just a little change
Small, to say the least
Both a little scared
Neither one prepared
Beauty and the beast


Ini adalah salah satu lagu soundtrack Disney paling ngehits di awal era 90-an. Versi lagu orisinal yang dipopulerkan oleh Celine Dion dan Peabo Bryson ini nuansa dramatisnya belum bisa dikalahkan oleh versi cover yang mana pun. Bahkan versi terbaru Disney yang dibawakan oleh Ariana Grande dan John Legend tidak ada apa-apanya dibandingkan versi aslinya. Ya itulah dari segi soundtrack. Lalu bagaimana dari segi filmnya itu sendiri? Yuk, kita obrolin.

Sebelum ngomongin soal cerita, saya mau komentar sedikit tentang sinematografinya yang berhasil menghidupkan gambar gerak 2 dimensi menjadi 3 dimensi. Selain teknologinya yang memang memadai, akting para pemerannya juga mendukung keberhasilan pengadaptasian film ini. Keren lah pokoknya.

Sekarang, soal ceritanya. Versi terbaru Disney ini 98% mirip dengan versi animasinya di tahun 1991. Secara garis besar sama persis, hanya ada sedikit perubahan pada beberapa bagian yang menurut saya merupakan bentuk penyempurnaan dan penyesuain plot terhadap jaman. Termasuk di dalamnya, adegan yang terindikasi homoseksual. Rupanya hal ini memang sudah menjadi semacam tren di dunia perfilman barat untuk menyelipkan unsur homoseksual walau hanya sekian detik. Oke, kita lewatkan pembahasan bagian itu, biarkan para pakar lain yang mengurusnya. 

Mungkin ada yang sudah lupa bagaimana cerita Beauty and the Beast versi animasi 1991. Baiklah akan saya ingatkan sekilas. Ayah Belle tersesat dan kehilangan kereta kudanya, dia masuk ke dalam istana yang megah dan disambut serta dilayani oleh perabotan yang bisa bicara. Lalu kemudian Beast muncul dan memenjarakannya. Keesokan harinya, dengan dituntun oleh kuda ayahnya yang pulang sendiri, Belle menyusul sang ayah dan menawarkan diri untuk menggantikan ayahnya sebagai tahanan. Lalu terjalinlah kisah di antara keduanya sampai tiba pada malam ketika mereka berdansa. Belle mengatakan ia merindukan ayahnya, Beast memberikan sebuah cermin ajaib agar Belle dapat melihat ayahnya. Belle sangat terkejut ketika melihat gambaran ayahnya sedang sakit. Akhirnya Beast mengizinkan dia pergi menemui ayahnya. Ketika tiba di rumah, Belle mendapati bahwa penduduk desa telah menganggap ayahnya gila dan harus dirawat. Mereka berusaha membawa ayahnya tapi Belle mencoba menghalangi dan menunjukkan cermin ajaib yang diberikan Beast untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak berbohong. Tapi di luar dugaan tindakannya itu justru membuat Gaston menghasut penduduk desa untuk menyerang Beast. Singkat kata singkat cerita terjadilah pertarungan antara Beast dan Gaston dengan hasil keduanya mati. 

Itulah cerita versi animasi 1991, yang diadaptasi menjadi film hidup pada tahun ini dengan kemiripan cerita kurang lebih 98% (perkiraan kasar ala saya). Satu hal yang perlu diingat, Disney mempunyai kebiasaan merombak plot asli menjadi sangat sederhana, mungkin karena pasar utama mereka adalah anak-anak. Jauh sebelum animasinya terkenal di era 90-an, kisah ini pernah difilmkan 45 tahun sebelumnya di negari kelahirannya, Perancis, dengan mengangkat plot yang mendekati versi orisinalnya. Film tersebut diberi judul sesuai judul aslinya La Belle et la Bête yang disutradai oleh Jean Cocteau, dan dibintangi Josette Day sebagai Belle serta Jean Marais sebagai Beast. Film ini mungkin sudah terlalu lama dan susah dicari, jika penasaran mungkin bisa mencari versi yang lebih baru di tahun 2014.

La Belle et la Bête versi 2014 disutradarai oleh Christophe Gans dan dibintangi oleh Léa Seydoux sebagai Belle serta Vincent Cassel sebagai Beast. Film ini diputar pada ajang Festival Film Internasional Berlin ke-64 sebagai film di luar kompetisi dan dirilis di Perancis pada 12 Februari 2014. Dasar cerita film ini secara garis besar memang diadaptasi dari versi orisinalnya, namun dengan banyak sekali penyesuaian dan perubahan. Film ini sempat mampir di bioskop Indonesia tapi tidak terlalu populer. 

Pertanyaannya sekarang, seperti apa sih versi orisinalnya? Kisah ini pertama kali ditulis dalam bentuk novel oleh Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve dengan judul La Belle et la Bête dan terbit pada tahun 1740. Novelnya yang begitu panjang itu diperpendek dan ditulis ulang oleh  Jeanne-Marie Leprince de Beaumont pada tahun 1756, versi Beaumont inilah yang kemudian diadaptasi oleh Jean Cocteau dalam versi filmnya di tahun 1946. Jadi begini ceritanya. 

Alkisah, di suatu kerajaan. Ada seorang pangeran yang sudah ditinggal mati oleh ayahnya sejak kecil, dan ibunya harus berperang untuk mempertahankan kerajaan mereka. Si pangeran dititipkan dan dirawat oleh seorang peri jahat, yang mencoba untuk menggodanya ketika sang pangeran dewasa. Namun si pangeran menolak, si peri marah dan merubah si pangeran menjadi Beast.

Sementara itu di kerajaan yang lain, ada seorang raja dengan seorang putri cantik jelita. Seorang peri jahat berusaha membunuh si putri agar ia dapat menikah dengan raja (mirip Snow White ya). Lalu demi melindungi si putri, ia diberikan kepada seorang saudagar kaya yang baru saja kehilangan salah seorang anak perempuannya.  


Si saudagar itu sendiri adalah seorang duda yang kaya raya dengan 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Ketiga anak perempuannya cantik-cantik namun yang bungsu, Beauty, yang paling cantik (tentu saja karena dia sebenarnya seorang putri kan?). Kedua kakak perempuan Beauty memiliki peringai yang buruk dan memperlakukan Beauty seperti pelayan (yang ini mirip Cinderella). Suatu hari tiba-tiba si saudagar ini jatuh miskin setelah kekayaannya hilang karena badai di lautan, dan mereka terpaksa tinggal di sebuah rumah kecil di desa dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beberapa tahun kemudian si saudagar mendengar kabar bahwa salah satu kapalnya yang dulu pernah ia kirim telah kembali. Dengan penuh semangat ia berniat untuk pergi ke kota. Ia menawarkan oleh-oleh apa yang anak-anaknya inginkan. Yang laki-laki minta persenjataan dan kuda untuk berburu, sementara yang perempuan minta baju-baju bagus dan perhiasan, kecuali Beauty yang hanya menginginkan bunga mawar.

Namun sayang sesampainya di kota ternyata kapalnya harus disita untuk membayar seluruh hutang-hutangnya, si saudagar pun terpaksa pulang dengan tangan kosong. Dalam perjalanan pulang ia tersesat di hutan akibat badai. Ia pun mencari tempat berlindung dan sampai di sebuah istana yang megah. Sosok-sosok tak kasatmata menyambutnya dan melayaninya, si saudagar tersebut akhirnya bermalam di istana itu. Keesokan paginya ketika ia hendak pulang, ia melihat taman mawar dan teringat dengan pesanan putri bungsunya. Ketika ia hendak memetik satu tangkai, Beast datang dengan marah dan mengatakan kalau ia harus mati. Si saudagar memohon meminta pengampunan dan menyampaikan kalau mawar itu adalah titipan anaknya. Si Beast akhirnya setuju untuk melepaskannya dengan syarat dia atau salah satu putrinya harus kembali. Singkat kata singkat cerita, Beauty menawarkan diri untuk pergi ke istana Beast. Di luar dugaan, di istana Beauty disambut dengan ramah dan mendapatkan segala kemewahan di dalam istana itu. Setiap malam Beast selalu meminta Beauty untuk menikah dengannya tapi Beauty selalu menolak. Sementara itu Beauty sering memimpikan seorang pangeran tampan yang ia yakini telah ditahan oleh Beast, namun Beauty tidak pernah menemukan si pangeran di istana. Beberapa bulan kemudian, Beauty rindu dengan keluargnya. Ia meminta izin untuk pulang. Beast mengizinkannya dengan syarat ia harus kembali dalam waktu seminggu. Beauty dibekali cermin ajaib untuk melihat Beast di istana dan sebuah cincin ajaib untuk kembali. Setelah seminggu, kakak-kakak perempuan Beauty yang iri berpura-pura sedih agar Beauty tidak kembali. Beauty yang baik hati itu pun tersentuh dan memilih untuk tinggal.

Lama-lama Beauty merasa bersalah karena telah melanggar janjinya, ia menggunakan cermin ajaib untuk melihat keadaan Beast. Ia terkejut mendapat gambaran bahwa Beast sedang terbaring sekarat disamping semak-semak mawar tempat ayahnya pernah mencoba mencuri. Segera saja Beauty menggunakan cincinya untuk kembali. Beauty menangis sedih di samping Beast dan mengatakan kalau dia mencintainya. Air matanya jatuh menyentuh Beast dan Beast berubah menjadi pangeran tampan dalam mimpi Beauty. 

Jadi, berbeda jauh kan dari versi Disney? Oh ya, ada satu lagi versi Hollywood yang saya suka dan tidak mungkin lupa. Beastly, sebuah film dari tahun 2011, menampilkan tokoh Beast paling guanteng yang pernah ada yang diperankan oleh Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens sebagai sosok "Beauty"-nya. Melihat latarnya yang berada di dunia moderen sudah pasti plotnya berbeda jauh baik dari yang versi tradisional maupun versi Disney, yang sama hanyalah butuh cinta sejati untuk mematahkan kutukan. Film ini sendiri merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama yang terbit tahun 2007 karya Alex Flinn

Kembali pada film yang sedang heboh karena isu LGBTnya, Beauty and the Beast 2017, saran terbaik yang bisa saya berikan adalah perhatikan rating film ini baik-baik. Di Indonesia film ini diberi rating 13+, jadi sebaiknya jangan ajak anak yang usianya belum mencapai 13 tahun. Tentang adegan yang terindikasi gay, yah opini orang bisa berbeda-beda, tonton saja dan nilai sendiri. 



Minggu, 25 Oktober 2015

Bercerita Tentang Peter Pan

Anak-anak pasti senang kalau nonton film ini, karena genre ceritanya benar-benar dibuat untuk anak-anak. Tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita Peter Pan yang sudah diketahui banyak orang, film PAN produksi Warner Bros ini menceritakan kisah petualangan seorang anak bernama Peter. Pada pembukaan film diperlihatkan bayi Peter ditinggalkan oleh ibunya (Amanda Seyfried) di depan pintu sebuah panti asuhan (atau sejenisnya) bernama Lambert Home For Boys. 12 tahun kemudian Peter (Levi Miller), bersama dengan anak-anak lainnya diculik oleh sekelompok bajak laut terbang dan dibawa ke Neverland untuk bekerja pada Kapten Blackbeard (Hugh Jackman) sebagai budak di sebuah tambang penghasil debu peri. Di tambang itu Peter bertemu dengan James Hook (Garrett Hedlund), dan mereka bekerja sama untuk kabur. Cerita berlanjut menjadi petualangan Peter ditemani Hook untuk mencari ibu kandungnya, yang pada akhirnya membawa mereka ke dalam kerjaan peri. Rupanya Blackbeard dan pasukan bajak lautnya diam-diam mengikuti mereka, karena Blackbeard mengincar debu peri yang begitu berlimpah di sarang mereka. Pertempuran sengit pun terjadi antara dua kubu itu, dan sudah dapat ditebak (karena ini film anak-anak) siapa yang menang. 

Komentar saya mengenai film ini tidak banyak, sangat ringan dan menghibur, sangat cocok untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga tanpa ada batas usia. Jadi kita biarkan saja para keluarga bahagia menikmati film fantasi anak-anak ini. Hehehehe..... Sementara itu, mari kita lihat lebih jauh tentang siapakah sebenarnya Peter Pan itu? 

Saya pribadi sudah mengenal sosok Peter Pan sejak masih kanak-kanak dulu, dan sudah melihat beberapa versi filmnya, tapi yang paling saya ingat adalah Hook (1991) yang disutradari oleh Steven Spielberg dan dibintangi oleh Robin Williams dan Peter Pan (2003) yang disutradari oleh P. J. Hogan dan tokoh Peter Pan diperankan oleh Jeremy Sumpter (yang membuat saya selalu ingat film ini adalah si Jeremy yang ganteng itu hihihihi....). 

Hook 1991
Peter Pan 2003
 Kedua film tersebut, sedikit berbeda dari film Pan yang sedang ngehits di bulan Oktober ini, mengisahkan tentang permusuhan antara Pan dan Kapten Hook, di mana Hook selalu dikisahkan sebagai seorang pria yang beringas. Tapi, ketiga-tiganya selalu menggambarkan Peter sebagai sosok bocah yang "bisa" dijadikan "idola " bagi anak-anak. Namun kemudian ketertarikan saya pada tokoh Peter Pan ini justru setelah membaca novel The Child Thief (Brom, 2009), dan semakin penasaran ketika tokoh ini muncul lagi dalam serial TV Once Upon A Time Season 3 (2014).

Ilustrasi Peter Pan dalam novel The Child Thief
Peter Pan dalam OUAT S3 diperankan oleh Robbie Kay  

Apa yang membuat saya tertarik dengan dua tokoh Peter Pan ini? Karena keduanya digambarkan sebagai tokoh antagonis dengan karakter yang penuh kegelapan. Tapi saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan bagaimana peran Peter Pan dalam kedua cerita ini, karena saya akan langsung melompat pada "sejarah" tokoh Peter Pan itu sendiri.

Peter Pan diciptakan oleh J. M. Barrie, seorang novelis Inggris berdarah Skotlandia. Tokoh Peter pertama kali muncul dalam salah satu bab dalam novel dewasa karyanya yang berjudul The Little White Bird (1902). Tokoh Peter lalu dikembangkan dalam sebuah drama panggung berjudul Peter Pan, or The Boy Who Wouldn't Grow Up (1904), hingga akhirnya dibuat sebuah novel sendiri pada tahun 1911 dengan judul Peter and Wendy. Satu hal yang menarik, ternyata tokoh ini terinspirasi dari saudara J. M. Barrie, David, yang meninggal karena kecelakaan ice-skating sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-14. Ibu dan saudara-saudaranya yang lain menganggap David sebagai "forever boy". Demikian sedikit sejarah mengenai lahirnya tokoh Peter Pan. Sekarang kita lihat siapakah sebenarnya Peter Pan? Apakah dia baik atau tidak? Apakah dia pantas dijadikan idola bagi anak-anak atau tidak? 

Pertama mari kita lihat apa yang dikerjakan Peter? Versi Disney menggambarkan Peter sebagai bocah yang menawarkan kesenangan pada anak-anak terutama anak laki-laki. Dia menawarkan sebuah tempat di mana mereka bisa bermain sepuasnya, tanpa harus takut diganggu atau dilarang oleh orang tua mereka, Dalam novel Brom kegiatan ini disebut secara vulgar sebagai "pencurian anak", dan bukan sembarang anak, hanya anak-anak yang merasa tidak bahagia dengan kehidupannya. Secara naluri saya sudah mempertanyakan hal ini, "Jadi Peter itu mengajak anak-anak untuk membangkang pada orang tua dong?" Tapi karena tokoh Peter ini selalu digambarkan sebagai sosok yang periang dan menghibur, pertanyaan itu hanya sekedar lewat saja. Sampai akhirnya saya bertemu dengan tokoh Peter di novel Brom, dan saya pun mulai mencari tahu seperti apa sih cerita sesungguhnya dari Peter Pan itu? Lalu bertepatan dengan hadirnya film Pan di tahun 2015 ini, saya pun terinspirasi untuk membaginya di sini. 

Saya menemukan sebuah artikel menarik di www.kompasiana.com yang jika saya hubungkan dengan novel Brom memiliki kemiripan, atau dapat dikatakan novel Brom kurang lebih menggambarkan apa yang ada dalam artikel tersebut, walau tidak serupa karena adanya penambahan unsur-unsur gelap. Artikel tersebut menganalisa tokoh Peter Pan dari perspektif Kristen yang kurang lebih dapat saya rangkum seperti ini (dengan sedikit penggambungan dari novel Brom). Peter Pan sebenarnya adalah peri jahat (iblis) yang membentuk pasukan dengan mengajak anak-anak laki-laki yang merasa terbuang dalam lingkungannya. Anak-anak yang diajak ke Neverland akan melalui sebuah tempat berkabut terlebih dahulu, tidak semua anak-anak lolos dari tempat ini (mati), dan mereka yang lolos akan melupakan kehidupan mereka sebelumnya. Selain itu Peter juga mendoktrin mereka bahwa Kapten Hook (atau dalam novel Brom adalah Kapten Samuel Carver) adalah bajak laut yang jahat yang harus dimusuhi, atau dalam novel Brom dia adalah bagian dari bangsa Pemakan Daging yang terkutuk. Tapi sebenarnya Sang Kapten itu adalah seorang Juru Selamat yang hendak mengajak anak-anak itu untuk kembali pada Tuhan, kembali pada jalan yang benar. Singkatnya Peter Pan (iblis) membujuk anak-anak (manusia) untuk meninggalkan orang tua (Tuhan), dan Sang Kapten (Juru Selamat) memiliki misi untuk mengajak anak-anak itu kembali pada orang tua mereka. Namun, karena cerita ini ditulis dari sisi Sang Iblis, maka Iblis itulah jagoannya, dan Juru Selamat itu adalah musuh yang harus dibasmi. Kenapa bisa begitu? Karena menurut artikel ini J. M. Barrie, sang pencipta Peter Pan adalah seorang anggota Illuminati (Organisasi internasional yang memayungi gerakan-gerakan untuk membuka jalan bagi kedatangan Iblis di Akhir Zaman, dengan bertopengkan kegiatan kemanusiaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan persatuan dan bermotokan Novus ordo seclorum (Gerakan Zaman Baru)). 

Setelah membaca artikel itu saya semakin "suka" dengan tokoh Peter Pan yang antagonis, karena memang karakter itulah yang sangat cocok. Peter Pan yang jahat, senyum liciknya, tipu dayanya, semua itu terasa sangat pas dibandingkan Peter Pan yang ceria dan selalu tersenyum. Karena Peter Pan bukan karakter yang tidak pernah sedih, justru seluruh hidupnya selalu diliputi kegelisahan dan kesibukan "mencari mangsa".

Sekarang silakan menilai sendiri apakah Peter Pan pantas dijadikan idola bagi anak-anak?

Sumber: