Cari Blog Ini

Sabtu, 18 Maret 2017

La Belle et la Bête, Tradisional dan Disney

Just a little change
Small, to say the least
Both a little scared
Neither one prepared
Beauty and the beast


Ini adalah salah satu lagu soundtrack Disney paling ngehits di awal era 90-an. Versi lagu orisinal yang dipopulerkan oleh Celine Dion dan Peabo Bryson ini nuansa dramatisnya belum bisa dikalahkan oleh versi cover yang mana pun. Bahkan versi terbaru Disney yang dibawakan oleh Ariana Grande dan John Legend tidak ada apa-apanya dibandingkan versi aslinya. Ya itulah dari segi soundtrack. Lalu bagaimana dari segi filmnya itu sendiri? Yuk, kita obrolin.

Sebelum ngomongin soal cerita, saya mau komentar sedikit tentang sinematografinya yang berhasil menghidupkan gambar gerak 2 dimensi menjadi 3 dimensi. Selain teknologinya yang memang memadai, akting para pemerannya juga mendukung keberhasilan pengadaptasian film ini. Keren lah pokoknya.

Sekarang, soal ceritanya. Versi terbaru Disney ini 98% mirip dengan versi animasinya di tahun 1991. Secara garis besar sama persis, hanya ada sedikit perubahan pada beberapa bagian yang menurut saya merupakan bentuk penyempurnaan dan penyesuain plot terhadap jaman. Termasuk di dalamnya, adegan yang terindikasi homoseksual. Rupanya hal ini memang sudah menjadi semacam tren di dunia perfilman barat untuk menyelipkan unsur homoseksual walau hanya sekian detik. Oke, kita lewatkan pembahasan bagian itu, biarkan para pakar lain yang mengurusnya. 

Mungkin ada yang sudah lupa bagaimana cerita Beauty and the Beast versi animasi 1991. Baiklah akan saya ingatkan sekilas. Ayah Belle tersesat dan kehilangan kereta kudanya, dia masuk ke dalam istana yang megah dan disambut serta dilayani oleh perabotan yang bisa bicara. Lalu kemudian Beast muncul dan memenjarakannya. Keesokan harinya, dengan dituntun oleh kuda ayahnya yang pulang sendiri, Belle menyusul sang ayah dan menawarkan diri untuk menggantikan ayahnya sebagai tahanan. Lalu terjalinlah kisah di antara keduanya sampai tiba pada malam ketika mereka berdansa. Belle mengatakan ia merindukan ayahnya, Beast memberikan sebuah cermin ajaib agar Belle dapat melihat ayahnya. Belle sangat terkejut ketika melihat gambaran ayahnya sedang sakit. Akhirnya Beast mengizinkan dia pergi menemui ayahnya. Ketika tiba di rumah, Belle mendapati bahwa penduduk desa telah menganggap ayahnya gila dan harus dirawat. Mereka berusaha membawa ayahnya tapi Belle mencoba menghalangi dan menunjukkan cermin ajaib yang diberikan Beast untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak berbohong. Tapi di luar dugaan tindakannya itu justru membuat Gaston menghasut penduduk desa untuk menyerang Beast. Singkat kata singkat cerita terjadilah pertarungan antara Beast dan Gaston dengan hasil keduanya mati. 

Itulah cerita versi animasi 1991, yang diadaptasi menjadi film hidup pada tahun ini dengan kemiripan cerita kurang lebih 98% (perkiraan kasar ala saya). Satu hal yang perlu diingat, Disney mempunyai kebiasaan merombak plot asli menjadi sangat sederhana, mungkin karena pasar utama mereka adalah anak-anak. Jauh sebelum animasinya terkenal di era 90-an, kisah ini pernah difilmkan 45 tahun sebelumnya di negari kelahirannya, Perancis, dengan mengangkat plot yang mendekati versi orisinalnya. Film tersebut diberi judul sesuai judul aslinya La Belle et la Bête yang disutradai oleh Jean Cocteau, dan dibintangi Josette Day sebagai Belle serta Jean Marais sebagai Beast. Film ini mungkin sudah terlalu lama dan susah dicari, jika penasaran mungkin bisa mencari versi yang lebih baru di tahun 2014.

La Belle et la Bête versi 2014 disutradarai oleh Christophe Gans dan dibintangi oleh Léa Seydoux sebagai Belle serta Vincent Cassel sebagai Beast. Film ini diputar pada ajang Festival Film Internasional Berlin ke-64 sebagai film di luar kompetisi dan dirilis di Perancis pada 12 Februari 2014. Dasar cerita film ini secara garis besar memang diadaptasi dari versi orisinalnya, namun dengan banyak sekali penyesuaian dan perubahan. Film ini sempat mampir di bioskop Indonesia tapi tidak terlalu populer. 

Pertanyaannya sekarang, seperti apa sih versi orisinalnya? Kisah ini pertama kali ditulis dalam bentuk novel oleh Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve dengan judul La Belle et la Bête dan terbit pada tahun 1740. Novelnya yang begitu panjang itu diperpendek dan ditulis ulang oleh  Jeanne-Marie Leprince de Beaumont pada tahun 1756, versi Beaumont inilah yang kemudian diadaptasi oleh Jean Cocteau dalam versi filmnya di tahun 1946. Jadi begini ceritanya. 

Alkisah, di suatu kerajaan. Ada seorang pangeran yang sudah ditinggal mati oleh ayahnya sejak kecil, dan ibunya harus berperang untuk mempertahankan kerajaan mereka. Si pangeran dititipkan dan dirawat oleh seorang peri jahat, yang mencoba untuk menggodanya ketika sang pangeran dewasa. Namun si pangeran menolak, si peri marah dan merubah si pangeran menjadi Beast.

Sementara itu di kerajaan yang lain, ada seorang raja dengan seorang putri cantik jelita. Seorang peri jahat berusaha membunuh si putri agar ia dapat menikah dengan raja (mirip Snow White ya). Lalu demi melindungi si putri, ia diberikan kepada seorang saudagar kaya yang baru saja kehilangan salah seorang anak perempuannya.  


Si saudagar itu sendiri adalah seorang duda yang kaya raya dengan 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Ketiga anak perempuannya cantik-cantik namun yang bungsu, Beauty, yang paling cantik (tentu saja karena dia sebenarnya seorang putri kan?). Kedua kakak perempuan Beauty memiliki peringai yang buruk dan memperlakukan Beauty seperti pelayan (yang ini mirip Cinderella). Suatu hari tiba-tiba si saudagar ini jatuh miskin setelah kekayaannya hilang karena badai di lautan, dan mereka terpaksa tinggal di sebuah rumah kecil di desa dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beberapa tahun kemudian si saudagar mendengar kabar bahwa salah satu kapalnya yang dulu pernah ia kirim telah kembali. Dengan penuh semangat ia berniat untuk pergi ke kota. Ia menawarkan oleh-oleh apa yang anak-anaknya inginkan. Yang laki-laki minta persenjataan dan kuda untuk berburu, sementara yang perempuan minta baju-baju bagus dan perhiasan, kecuali Beauty yang hanya menginginkan bunga mawar.

Namun sayang sesampainya di kota ternyata kapalnya harus disita untuk membayar seluruh hutang-hutangnya, si saudagar pun terpaksa pulang dengan tangan kosong. Dalam perjalanan pulang ia tersesat di hutan akibat badai. Ia pun mencari tempat berlindung dan sampai di sebuah istana yang megah. Sosok-sosok tak kasatmata menyambutnya dan melayaninya, si saudagar tersebut akhirnya bermalam di istana itu. Keesokan paginya ketika ia hendak pulang, ia melihat taman mawar dan teringat dengan pesanan putri bungsunya. Ketika ia hendak memetik satu tangkai, Beast datang dengan marah dan mengatakan kalau ia harus mati. Si saudagar memohon meminta pengampunan dan menyampaikan kalau mawar itu adalah titipan anaknya. Si Beast akhirnya setuju untuk melepaskannya dengan syarat dia atau salah satu putrinya harus kembali. Singkat kata singkat cerita, Beauty menawarkan diri untuk pergi ke istana Beast. Di luar dugaan, di istana Beauty disambut dengan ramah dan mendapatkan segala kemewahan di dalam istana itu. Setiap malam Beast selalu meminta Beauty untuk menikah dengannya tapi Beauty selalu menolak. Sementara itu Beauty sering memimpikan seorang pangeran tampan yang ia yakini telah ditahan oleh Beast, namun Beauty tidak pernah menemukan si pangeran di istana. Beberapa bulan kemudian, Beauty rindu dengan keluargnya. Ia meminta izin untuk pulang. Beast mengizinkannya dengan syarat ia harus kembali dalam waktu seminggu. Beauty dibekali cermin ajaib untuk melihat Beast di istana dan sebuah cincin ajaib untuk kembali. Setelah seminggu, kakak-kakak perempuan Beauty yang iri berpura-pura sedih agar Beauty tidak kembali. Beauty yang baik hati itu pun tersentuh dan memilih untuk tinggal.

Lama-lama Beauty merasa bersalah karena telah melanggar janjinya, ia menggunakan cermin ajaib untuk melihat keadaan Beast. Ia terkejut mendapat gambaran bahwa Beast sedang terbaring sekarat disamping semak-semak mawar tempat ayahnya pernah mencoba mencuri. Segera saja Beauty menggunakan cincinya untuk kembali. Beauty menangis sedih di samping Beast dan mengatakan kalau dia mencintainya. Air matanya jatuh menyentuh Beast dan Beast berubah menjadi pangeran tampan dalam mimpi Beauty. 

Jadi, berbeda jauh kan dari versi Disney? Oh ya, ada satu lagi versi Hollywood yang saya suka dan tidak mungkin lupa. Beastly, sebuah film dari tahun 2011, menampilkan tokoh Beast paling guanteng yang pernah ada yang diperankan oleh Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens sebagai sosok "Beauty"-nya. Melihat latarnya yang berada di dunia moderen sudah pasti plotnya berbeda jauh baik dari yang versi tradisional maupun versi Disney, yang sama hanyalah butuh cinta sejati untuk mematahkan kutukan. Film ini sendiri merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama yang terbit tahun 2007 karya Alex Flinn

Kembali pada film yang sedang heboh karena isu LGBTnya, Beauty and the Beast 2017, saran terbaik yang bisa saya berikan adalah perhatikan rating film ini baik-baik. Di Indonesia film ini diberi rating 13+, jadi sebaiknya jangan ajak anak yang usianya belum mencapai 13 tahun. Tentang adegan yang terindikasi gay, yah opini orang bisa berbeda-beda, tonton saja dan nilai sendiri. 



Jumat, 15 Juli 2016

Lo Gue Butuh Tau LGBT






Judul                   : Lo Gue Butuh Tau LGBT
Penulis                 : Sinyo
Penerbit                : Gema Insani
Tahun Terbit           : 2016
Jumlah Halaman        : 124 halaman



     Sebenarnya sudah dari beberapa minggu yang lalu saya ingin membuat tulisan ini. Tetapi saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk “puasa” menulis selama bulan Ramadhan, dan lebih fokus pada kegiatan membaca. Salah satu buku yang saya baca berjudul Lo Gue Butuh Tau LGBT karya Kak Sinyo. Buku ini formatnya ditujukan untuk remaja, namun ilmu dan informasi yang ada di dalamnya menjangkau segala usia. Bahkan menurut saya para orang tua wajib baca buku ini.

     Buku ini dimulai dengan pembahasan mengenai “Apa itu orientasi seksual?”. Secara umum dan garis besar, orientasi seksual dibagi menjadi 3 macam, yaitu: (1) SSA (Same Sex Attraction) atau homoseksual, yaitu ketertarikan seksual terhadap sesama jenis; (2) biseksual, yaitu tertarik secara seksual kepada lawan jenis sekaligus sesama jenis; dan (3) heteroseksual, yaitu ketertarikan seksual kepada lawan jenis. Orientasi seksual yang sesuai fitrah manusia tentu saja adalah heteroseksual, namun berbagai faktor mulai dari kondisi psikologis sampai lingkungan dan pergaulan dapat membuat orientasi seseorang berubah menjadi non-heteroseksual.

     Satu hal yang sangat menarik dalam buku ini adalah penjelasan mengenai perbedaan antara kaum homoseksual yang “gay and proud” dan kaum homoseksual yang “i wanna change but i don’t know how”. Biar lebih mudah mari kita sederhanakan istilahnya sesuai dengan yang disebutkan oleh Kak Sinyo dalam buku ini. Yang dimaksud dengan kelompok “gay and proud” adalah mereka yang mengakui secara terang-terangan ketertarikan mereka terhadap sesama jenis dan menganggap itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan sehingga wajar jika mereka menikah sesama jenis. Kelompok inilah yang disebut dengan LGBT atau lengkapnya Lesbian Gay Bisexual Transgender. Bahkan setahu saya akronim ini ada yang versi lebih panjang yaitu LGBTQ, ada penambahan Queer di belakang. Lalu apa sebutan untuk kelompok yang “i wanna change but i don’t know how”? Untuk kelompok ini pada dasarnya dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu, “i can’t change” dan “please, help me”. Secara umum kelompok ini oleh Kak Sinyo dalam bukunya disebut sebagai SSA atau Same Sex Attraction. Mereka yang termasuk dalam kelompok SSA ini ada yang berusaha mati-matian untuk lurus dan ada juga yang memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Tetapi yang mana pun tidak satu pun dari mereka memiliki kebanggaan karena memiliki ketertarikan sesama jenis apalagi menyetujui pernikahan sesama jenis.

     Lalu bagaimana Islam memandang LGBT? Jelas sekali Islam melarang tindakan seksual sesama jenis. Di sinilah yang perlu dipahami lebih dalam, bahwa yang dilarang dan dilaknat adalah perbuatannya bukan kecenderungannya. Ibarat kita punya niat jahat tapi belum dilakukan itu belum dihitung dosa. Bagi SSA, ini adalah perjuangan seumur hidup, sebuah jihad tanpa batas waktu. Bisa saja kemenangan diraih di dunia, bisa juga sampai akhir hayatnya dia masih berjuang. Namun jika mampu istiqomah sampai akhir, kemenangan di akhirat itu sudah janji Allah. Jadi jika kalian berpikir untuk menghakimi mereka, pikirkan sekali lagi, kalian sama sekali tidak tahu perjuangan yang mereka hadapi.

     Kemudian, bagaimana kalau kita memiliki teman atau sahabat yang SSA? Tidak perlu panik apalagi menjauhi, selama mereka tetap di jalan Allah dan sadar sepenuhnya itu adalah dosa, bertemanlah dengan baik. Karena terkadang orang yang memiliki SSA butuh teman untuk berbagi beban. Jika kita menghakimi mereka seolah mereka sudah pasti masuk neraka dan kita masuk surga hanya karena masalah orientasi seksual, sudah dipastikan mereka akan menjauh dan menutup diri.

     Satu pesan yang cukup bagus yang juga disampaikan oleh buku ini adalah janganlah kita terlalu mudah menuduh orang homo. Jangan mentang-mentang seseorang tidak pernah pacaran terus kita berpikir dia pasti homo. Dan pacaran bukanlah solusi untuk membuktikan kalau kita tidak homo. Jangan bermain-main dengan hati manusia. Hehehe....

     Selain hal-hal yang saya sebut di atas, buku ini juga membahas mengenai mengapa seseorang bisa tertarik sesama jenis, seperti apa ciri-ciri SSA, pro dan kontra mengenai LGBT, dan bagaimana menjaga diri dari LGBT. Hal menarik lainnya dari buku ini adalah adanya semacam tes kecil untuk mendeteksi sejak dini orientasi seksual kita. Lebih seru lagi buku ini disertai beberapa kisah nyata dari para SSA yang berjuang untuk kembali pada fitrah. Buku ini dijamin akan merubah sudut pandang kita terhadap kaum SSA dan LGBT. Buku ini sangat bagus, dan saya sangat merekomendasikan untuk membacanya bagi teman-teman SSA yang ingin menjalani hidup sesuai tuntunan agama tanpa perlu terganggu oleh ke-SSA-annya. Menurut saya buku ini sangat-sangat bermanfaat. Dan semoga tulisan ini juga bermanfaat.


Sumber utama:
-                  -      Sinyo. (2016). Lo Gue Butuh Tau LGBT. Jakarta: Gema Insani.
Sumber lainnya:

-                 -       Dari berbagai sumber



Minggu, 25 Oktober 2015

Bercerita Tentang Peter Pan

Anak-anak pasti senang kalau nonton film ini, karena genre ceritanya benar-benar dibuat untuk anak-anak. Tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita Peter Pan yang sudah diketahui banyak orang, film PAN produksi Warner Bros ini menceritakan kisah petualangan seorang anak bernama Peter. Pada pembukaan film diperlihatkan bayi Peter ditinggalkan oleh ibunya (Amanda Seyfried) di depan pintu sebuah panti asuhan (atau sejenisnya) bernama Lambert Home For Boys. 12 tahun kemudian Peter (Levi Miller), bersama dengan anak-anak lainnya diculik oleh sekelompok bajak laut terbang dan dibawa ke Neverland untuk bekerja pada Kapten Blackbeard (Hugh Jackman) sebagai budak di sebuah tambang penghasil debu peri. Di tambang itu Peter bertemu dengan James Hook (Garrett Hedlund), dan mereka bekerja sama untuk kabur. Cerita berlanjut menjadi petualangan Peter ditemani Hook untuk mencari ibu kandungnya, yang pada akhirnya membawa mereka ke dalam kerjaan peri. Rupanya Blackbeard dan pasukan bajak lautnya diam-diam mengikuti mereka, karena Blackbeard mengincar debu peri yang begitu berlimpah di sarang mereka. Pertempuran sengit pun terjadi antara dua kubu itu, dan sudah dapat ditebak (karena ini film anak-anak) siapa yang menang. 

Komentar saya mengenai film ini tidak banyak, sangat ringan dan menghibur, sangat cocok untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga tanpa ada batas usia. Jadi kita biarkan saja para keluarga bahagia menikmati film fantasi anak-anak ini. Hehehehe..... Sementara itu, mari kita lihat lebih jauh tentang siapakah sebenarnya Peter Pan itu? 

Saya pribadi sudah mengenal sosok Peter Pan sejak masih kanak-kanak dulu, dan sudah melihat beberapa versi filmnya, tapi yang paling saya ingat adalah Hook (1991) yang disutradari oleh Steven Spielberg dan dibintangi oleh Robin Williams dan Peter Pan (2003) yang disutradari oleh P. J. Hogan dan tokoh Peter Pan diperankan oleh Jeremy Sumpter (yang membuat saya selalu ingat film ini adalah si Jeremy yang ganteng itu hihihihi....). 

Hook 1991
Peter Pan 2003
 Kedua film tersebut, sedikit berbeda dari film Pan yang sedang ngehits di bulan Oktober ini, mengisahkan tentang permusuhan antara Pan dan Kapten Hook, di mana Hook selalu dikisahkan sebagai seorang pria yang beringas. Tapi, ketiga-tiganya selalu menggambarkan Peter sebagai sosok bocah yang "bisa" dijadikan "idola " bagi anak-anak. Namun kemudian ketertarikan saya pada tokoh Peter Pan ini justru setelah membaca novel The Child Thief (Brom, 2009), dan semakin penasaran ketika tokoh ini muncul lagi dalam serial TV Once Upon A Time Season 3 (2014).

Ilustrasi Peter Pan dalam novel The Child Thief
Peter Pan dalam OUAT S3 diperankan oleh Robbie Kay  

Apa yang membuat saya tertarik dengan dua tokoh Peter Pan ini? Karena keduanya digambarkan sebagai tokoh antagonis dengan karakter yang penuh kegelapan. Tapi saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan bagaimana peran Peter Pan dalam kedua cerita ini, karena saya akan langsung melompat pada "sejarah" tokoh Peter Pan itu sendiri.

Peter Pan diciptakan oleh J. M. Barrie, seorang novelis Inggris berdarah Skotlandia. Tokoh Peter pertama kali muncul dalam salah satu bab dalam novel dewasa karyanya yang berjudul The Little White Bird (1902). Tokoh Peter lalu dikembangkan dalam sebuah drama panggung berjudul Peter Pan, or The Boy Who Wouldn't Grow Up (1904), hingga akhirnya dibuat sebuah novel sendiri pada tahun 1911 dengan judul Peter and Wendy. Satu hal yang menarik, ternyata tokoh ini terinspirasi dari saudara J. M. Barrie, David, yang meninggal karena kecelakaan ice-skating sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-14. Ibu dan saudara-saudaranya yang lain menganggap David sebagai "forever boy". Demikian sedikit sejarah mengenai lahirnya tokoh Peter Pan. Sekarang kita lihat siapakah sebenarnya Peter Pan? Apakah dia baik atau tidak? Apakah dia pantas dijadikan idola bagi anak-anak atau tidak? 

Pertama mari kita lihat apa yang dikerjakan Peter? Versi Disney menggambarkan Peter sebagai bocah yang menawarkan kesenangan pada anak-anak terutama anak laki-laki. Dia menawarkan sebuah tempat di mana mereka bisa bermain sepuasnya, tanpa harus takut diganggu atau dilarang oleh orang tua mereka, Dalam novel Brom kegiatan ini disebut secara vulgar sebagai "pencurian anak", dan bukan sembarang anak, hanya anak-anak yang merasa tidak bahagia dengan kehidupannya. Secara naluri saya sudah mempertanyakan hal ini, "Jadi Peter itu mengajak anak-anak untuk membangkang pada orang tua dong?" Tapi karena tokoh Peter ini selalu digambarkan sebagai sosok yang periang dan menghibur, pertanyaan itu hanya sekedar lewat saja. Sampai akhirnya saya bertemu dengan tokoh Peter di novel Brom, dan saya pun mulai mencari tahu seperti apa sih cerita sesungguhnya dari Peter Pan itu? Lalu bertepatan dengan hadirnya film Pan di tahun 2015 ini, saya pun terinspirasi untuk membaginya di sini. 

Saya menemukan sebuah artikel menarik di www.kompasiana.com yang jika saya hubungkan dengan novel Brom memiliki kemiripan, atau dapat dikatakan novel Brom kurang lebih menggambarkan apa yang ada dalam artikel tersebut, walau tidak serupa karena adanya penambahan unsur-unsur gelap. Artikel tersebut menganalisa tokoh Peter Pan dari perspektif Kristen yang kurang lebih dapat saya rangkum seperti ini (dengan sedikit penggambungan dari novel Brom). Peter Pan sebenarnya adalah peri jahat (iblis) yang membentuk pasukan dengan mengajak anak-anak laki-laki yang merasa terbuang dalam lingkungannya. Anak-anak yang diajak ke Neverland akan melalui sebuah tempat berkabut terlebih dahulu, tidak semua anak-anak lolos dari tempat ini (mati), dan mereka yang lolos akan melupakan kehidupan mereka sebelumnya. Selain itu Peter juga mendoktrin mereka bahwa Kapten Hook (atau dalam novel Brom adalah Kapten Samuel Carver) adalah bajak laut yang jahat yang harus dimusuhi, atau dalam novel Brom dia adalah bagian dari bangsa Pemakan Daging yang terkutuk. Tapi sebenarnya Sang Kapten itu adalah seorang Juru Selamat yang hendak mengajak anak-anak itu untuk kembali pada Tuhan, kembali pada jalan yang benar. Singkatnya Peter Pan (iblis) membujuk anak-anak (manusia) untuk meninggalkan orang tua (Tuhan), dan Sang Kapten (Juru Selamat) memiliki misi untuk mengajak anak-anak itu kembali pada orang tua mereka. Namun, karena cerita ini ditulis dari sisi Sang Iblis, maka Iblis itulah jagoannya, dan Juru Selamat itu adalah musuh yang harus dibasmi. Kenapa bisa begitu? Karena menurut artikel ini J. M. Barrie, sang pencipta Peter Pan adalah seorang anggota Illuminati (Organisasi internasional yang memayungi gerakan-gerakan untuk membuka jalan bagi kedatangan Iblis di Akhir Zaman, dengan bertopengkan kegiatan kemanusiaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan persatuan dan bermotokan Novus ordo seclorum (Gerakan Zaman Baru)). 

Setelah membaca artikel itu saya semakin "suka" dengan tokoh Peter Pan yang antagonis, karena memang karakter itulah yang sangat cocok. Peter Pan yang jahat, senyum liciknya, tipu dayanya, semua itu terasa sangat pas dibandingkan Peter Pan yang ceria dan selalu tersenyum. Karena Peter Pan bukan karakter yang tidak pernah sedih, justru seluruh hidupnya selalu diliputi kegelisahan dan kesibukan "mencari mangsa".

Sekarang silakan menilai sendiri apakah Peter Pan pantas dijadikan idola bagi anak-anak?

Sumber:

Jumat, 11 September 2015

Berakit Ke Hulu

Gambar di samping adalah sebuah jalan desa yang gue n sahabat gue temuin ketika berpetualang mencari pantai di Malang. Di kedua sisi jalan itu ada tambak dengan air yang melimpah yang ngeliatnya aja bikin seger. Jalan ini kami temukan setelah melewati medan yang sempit, berliku, terjal dan berbatu-batu. Kebetulan uni Devy yang nyetir saat itu (jarang-jarang nih gue manggil uni hahahaha....) Dia udah ngeluh sepanjang jalan itu, tapi gue bilang kalo jalannya susah begini hasilnya harus indah banget nanti di depan. Dan tadaaaaaa ketemu jalan ini langsung berhenti (di tengah jalan), turun dan mengabadikannya. Keren kan? Tidak lama setelah melewati jalan ini sampai juga kami di barisan pantai Malang yang masih perawan (belum banyak pengunjung). Tapi perjuangannya itu lhooooo harus melewati jalan setapak, mendaki bukit, turuni lembah, melintas hutan. Mana panas pulaaaa, gue udah hampir menyerah di awal tapi sang sahabat tercinta ini (uni Devy) meraih tangan gue n mengembalikan kata-kata gue. "Kalo jalannya berat, pantainya pasti indah banget." Semangat gue pun terbakar kembali. Yaitulah sahabat selalu menyemangati. 

Like a small boat
On the ocean
Sending big waves
Into motion
Like how a single word
Can make a heart open
I might only have one match
But I can make an explosion

Pelajaran yang dapat dipetik pada perjalanan itu adalah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Kalo kata orang londo "no pain no gain." Perjalanan singkat yang membuat gue susah jalan selama dua hari itu adalah sebuah penggambaran singkat tentang apa yang sedang gue jalani sekarang. Gue udah terlalu lama bersenang-senang dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Menukar semua mimpi dan ambisi untuk kebahagian materi yang berujung pada titik jenuh. Gue menyia-nyiakan usia 20an gue begitu aja. Tapi gak nyesel sih, karena gue sadar emang seperti itulah jalan yang Allah kasih buat gue supaya gue bisa melihat dunia dari kacamata yang berbeda. Supaya gue mendapatkan pelajaran yang sangat berharga kalau hidup ini bukan sekedar hidup. Hidup punya tujuan dan hidup haruslah bermanfaat. 

Losing friends and I'm chasing sleep
Everybody's worried about me
In too deep
Say I'm in too deep (in too deep)
And it's been two years
I miss my home
But there's a fire burning in my bones
Still believe
Yeah, I still believe

Gue sering denger orang bilang kesempatan tidak datang dua kali. Menurut gue itu salah, kesempatan selalu datang berkali-kali, kitanya yang sering (hampir selalu) untuk takut mengambilnya. Tanpa sadar ada banyak alasan pembenaran yang keluar untuk menghibur diri. Tapi masa-masa kegelapan itu sudah berlalu, sekarang gue memasuki masa pencerahan. Masa di mana gue berani mengambil segala resiko demi merubah hidup sesuai kehendak gue, dan yang lebih penting lagi sesuai ridho dan restu orang tua. Mengingat waktu muda dulu (sekarang juga masih muda cuma gak remaja lagi ajah) gue sering melanggar perkataan mereka dan tidak mau menuruti apa pun nasehat mereka, yang baru gue sadari sekarang itu semua demi kebaikan gue sendiri. Yaudahlah ya masa lalu, sekarang saatnya menatap masa depan.

And all those things I didn't say
Wrecking balls inside my brain
I will scream them loud tonight
Can you hear my voice this time?

Kurang lebih seminggu yang lalu gue nonton "Islam Itu Indah" sambil ngeteh n memecahkan kasus di Criminal Case dan mengurus pertanian di Hay Day. Nah, si pak ustat berkata "anak harus lebih dari orang tua." Nyentil banget itu. Gue emang pernah (dulu waktu masih remaja) bercita-cita ingin menjadi orang yang lebih hebat dari bokap gue. Secara bagi gue bokap gue itu hebat banget (di bidangnya ya). Kan gue jadi mikir masa bapaknya sukses anaknya begini-begini aja? Jadi, ketika kesempatan yang lama ditunggu itu datang, kalo mau pake bahasa yang puitis kesempatan itu bagaikan hujan yang turun setelah musim kemarau yang sangat panjaaaaang (gak puitis juga sih tapi ya begitulah intinya). Saatnya merubah hidup, mengembalikan diri gue yang dulu. Dan ya sekarang gue bener-bener merasa sangat hidup.

This is my fight song
Take back my life song
Prove I'm alright song
My power's turned on
Fight now I'll be strong
I'll play my fight song
And I don't really care if nobody else believes
'Cause I've still got a lot of fight left in me

Jadi inilah kesempatan kedua gue. 
  
Kuliah sudah berjalan tiga minggu dan gue merasa sangat hidup dan penuh semangat, walau badannya masih menyesuaikan diri dengan rutinitas kuliah-kerja dengan tidak ada libur satu hari pun. Di tambah otak yang udah lama beku masih dalam tahap pemanasan. Gue juga gak tahu apa yang akan menanti atau menghadang gue di depan sana, tapi kali ini gue gak akan menyerah seperti sebelum-sebelumnya, gue gak akan takut dan menghidar demi menyelamatkan diri di zona nyaman. Kali ini gue siap berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Karena perjalan yang berat akan berakhir pada tujuan yang hebat. 

Yupz... This is a fight, to get my life back, and I'll be alraight because my power is turned on, starting now I'll be strong. I've still got a lot of fight left ini me. (Fight Song by Rachel Platten).

頑張ります。。。

Selasa, 30 Juni 2015

The Age Of Adaline, Romantisme Yang Tidak Biasa

Baru lihat trailernya sekali saya langsung jatuh cinta sama film ini. Saya selalu suka dengan film-film yang memiliki unsur "khayalan". 

Film dibuka oleh suara narator yang bercerita ala dongeng sambil menampilkan sedikit suasana kota San Francisco. Lalu muncullah si tokoh utama bernama Jenny. Jenny bekerja di sebuah perpustakaan, dan ketika ia memutar sebuah film lawas, sang narator kembali beraksi untuk menceritakan siapa Jenny sesungguhya. Nama aslinya adalah Adaline Bowman, ia lahir pada tahun baru 1908. Adaline menjalani kehidupan seperti perempuan lainnya, menikah dan memiliki seorang anak. Namun kemudian suaminya meninggal. Suatu hari, saat dalam perjalanan untuk menemui putrinya di rumah orang tuanya, Adaline mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pagar pembatas lalu jatuh dan tenggelam ke dalam air (entah danau atau sungai) yang sangat dingin. Saat itu Adaline meninggal dunia. Dan saat itu juga keajaiban terjadi. Sebuah petir menyambar, dan sang narator menjelaskan secara ilmiah dan epik bagaimana kombinasi antara kondisi fisik Adaline dan sambaran petir dapat membuat Adaline hidup kembali dengan efek samping yang membuat proses penuaannya terhenti. Efek samping yang dialami oleh Adaline bukan hanya pada kondisi tubuhnya, tapi juga kehidupannya. Dia bahkan sempat menjadi incaran FBI, untungnya dia berhasil lolos. Maka sejak saat itu Adaline memutuskan untuk terus berlari, ia selalu berpindah tempat serta mengganti identitasnya setiap sepuluh tahun. 

Pada sebuah pesta tahun baru, Jenny berkenalan dengan Ellis. Pada pertemuan selanjutnya Ellis memberikan beberapa bunga dalam bentuk buku (ini romantisnya maksimal dan jauh dari mainstream). Hubungan keduanya pun berlanjut pada tahap kencan, sampai Ellis mengajak Jenny untuk ikut ke acara ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke-40. Setibanya di rumah Ellis, Jenny disambut hangat oleh ibu dan adik perempuan Ellis. Kemudian cerita menjadi sangat hidup ketika William, ayah Ellis , muncul dan secara spontan memanggil Jenny dengan nama aslinya "Adaline". Jenny mengelak dengan mengatakan bahwa Adaline adalah nama ibunya. Namun pada sebuah percakapan di antara mereka berdua, bekas luka di tangan kiri Jenny membuktikan bahwa Jenny adalah Adaline yang pernah dikenal William dulu. William meminta Jenny untuk tidak pergi meninggalkan Ellis seperti dulu, tapi Jenny tidak yakin. Dia meninggalkan pesan untuk Ellis dan pergi.

Di pertengahan jalan Jenny berubah pikiran, dia memutuskan untuk berhenti berlari. Di saat yang bersamaan sebuah truk menabrak mobilnya. Sekali lagi, Adaline meninggal dunia. Sang narator kembali bersuara untuk menjelaskan serangkaian fenomena alam yang mengiringi kematiannya dalam suhu yang sangat dingin, yang kemudian dikombinasikan dengan defibrilator milik para petugas medis yang datang menolong, dan keajaiban yang sama terulang lagi. Setelah sadar dan berada di rumah sakit, Adaline akhirya menceritakan semua tentang dirinya yang sebenarnya.

Bagi penggemar drama romantis, film ini wajib banget nonton. Adegan-adegan romantisme yang ditampilkan berbeda dari biasanya. Kreatif, cerdas,  dan mampu membuat saya terpana. Saya sangat menyukai tokoh Adaline yang diperankan dengan sempurna oleh Blake Lively, keanggunan dan keeleganan yang dimilikinya sejak pertengahan abad 20 tidak lekang oleh waktu. Tokoh Ellis juga sangat menarik, laki-laki seperti itulah yang saya butuhkan (curcol hahaha...).

Dari 1-10 film ini Zenin kasih nilai 8,5. ^_^

Kamis, 21 Mei 2015

Yes, I am an Introvert!

Sering dengar istilah introvert tapi belum benar-benar paham apa maksudnya. Setiap mendengar istilah itu biasanya yang tergambar dalam pikiran saya adalah orang yang susah bergaul dan amat sangat tertutup dan pemalu. Tapi ternyata tidak juga. 

Dari hasil berselancar di Google Academy berikut adalah ciri-ciri seorang introvert, yang ternyata sangat cocok dengan kepribadian saya. 



1. Senang menyendiri
    Saya sangat suka menyendiri. Saya bisa melakukan apa saja sendirian selama  saya mau. Kesepian? Tentu tidak. Definisi kesepian bagi saya adalah ketika saya meluangkan waktu bersama orang yang salah. Salah bagaimana? Salah dalam hal kenyamanan. Jadi sendiri jauh lebih nyaman bagi saya. Nonton film sendirian di bioskop, makan sendirian di restoran, nongkrong sendirian di kedai kopi,  berautis ria di toko buku, semua itu tidak masalah bagi saya. I TOTALLY enjoy it. Di rumah pun saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, biasanya menulis, membaca, ngegame. Keluar kamar kalau makan, nonton film, ke kamar mandi, dipanggil orang tua. I just love being alone. 

2. Pemikir, pemalu, dan pendiam
     Saya adalah orang yang tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya selalu sibuk dengan banyak hal. Saking sibuknya terkadang sampai membuat aktifitas fisik saya terhenti, dan biasanya orang lain akan mengira saya lagi bengong alias melamun. Saya sangat pemalu. Malu untuk menyapa duluan, malu untuk bertanya (untung nggak pake sesat di jalan), malu untuk berbicara (atas keinginan sendiri bukan karena harus), yang semua itu tidak menutup kemungkinan orang akan berpikir saya sombong. Saya pendiam, dan hanya cerewet pada orang-orang tertentu saja. Semua orang yang baru kenal saya sudah dipastikan akan menilai kalau saya pendiam dan serius.

3. Lebih senang bekerja sendiri
     Efek dari senang menyendiri adalah senang bekerja sendiri. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja dalam tim, saya hanya merasa lebih nyaman bekerja sendiri. Kenapa? Hampir sama alasannya dengan senang menyendiri. Dari pada harus berpartner dengan orang yang tidak cocok dengan cara kerja saya, lebih baik kerja sendiri saja. Tapi kalau partnernya cocok ya tidak masalah. Namun jika seandainya diberi pilihan, saya akan lebih memilih pekerjaan yang tidak berpartner.

4. Pemilih dalam berteman
    Saya terbuka untuk berkenalan dengan siapa saja, tapi untuk berteman sejak kecil saya sudah pemilih. Teman aja milih apalagi jodoh ya (curcol). Kriteria seperti apa yang saya pilih sebagai teman? Tidak ada kriteria khusus sih, yang penting sreg di hati. Tapi biasanya orang-orang yang bisa berteman dengan saya adalah mereka yang doyan makan, jalan-jalan, nonton, becanda, nggak jaim, nggak gampang tersinggung. Jujur, teman saya sedikit, tapi alhamdulillah mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangan, adalah teman-teman yang baik. Kualitas lebih penting dibanding kuantitas, kan? ^_^ 

5. Lebih senang mendengarkan dari pada bercerita
     Sejak dulu saya selalu menjadi pendengar yang baik. Dalam situasi umum saya lebih suka mendengarkan dari pada menceritakan, apalagi jika berada dalam kelompok yang besar. Rasanya malas aja untuk berbagi cerita dengan orang banyak. Nggak enak gitu rasanya. Aneh? Ya begitulah. :D

6. Tidak suka keramaian
     Saya kurang suka berada di tempat-tempat yang ramai atau banyak sekali manusianya (kecuali jika suatu saat nanti saya naik haji, amin). Kepala saya rasanya langsung pusing kalau lihat manusia melimpah ruah. Apalagi kalau lihat jalanan penuh dengan pengendara motor, rasanya ingin melambaikan tangan ke kamera. Nggak sanggup :(( Saya lebih suka tempat-tempat yang tenang dan tidak banyak orang. Rasanya tuh damai dan membangkitkan semangat.

7. Lebih suka berinteraksi langsung dengan individu 
     Masih ada hubungannya dengan pendiam dan pendengar yang baik, dua hal itu hanya berlaku dalam situasi umum atau kelompok besar. Dalam situasi khusus atau kelompok kecil (bersama 1 atau 2 orang) saya akan menjadi orang yang banyak bercerita. Terlebih lagi jika lawan bicara saya itu adalah sahabat yang tahu segalanya tentang saya. Silakan tanya, mereka akan bilang saya cerewet. Hehehe.... Saya tidak butuh banyak teman untuk merasa terhibur,  cukup satu atau dua orang sahabat untuk diajak ngopi bareng. Sahabat oh sahabat, teman aja milih apalagi sahabat. ;p 

Yah, itulah kurang lebih ciri-ciri introvert yang melekat pada diri saya. Ya, saya memang introvert, begitulah adanya saya, dan saya merasa sangat nyaman dengan diri saya. Itu yang penting, nyaman dengan diri sendiri, jadi diri sendiri. Bukan begitu betul? 

Sabtu, 11 April 2015

Girl Crush, Ketika Seorang Perempuan Mengagumi Perempuan Lain



Girl Crush, rasanya senang sekali menemukan istilah ini. Akhirnya ada juga sebuah ungkapan yang bisa menggambarkan salah satu jenis "kekaguman" yang sebelumnya harus dijelaskan panjang lebar. Apa itu girl crush? Girl crush adalah sebuah perasaan suka atau kagum seorang perempuan terhadap perempuan lainnya. Bisa karena kecantikannya, kepandaiannya, kepribadiannya, gayanya, cara bicaranya, dan lain sebagainya. Tapi ketertarikan atau kekaguman ini tidak bermuatan seksual atau bernuansa romantis, benar-benar 100% kagum. Atau istilah lainya mengidolakan.

Kenapa saya senang dengan lahirnya istilah yang berasal dari negeri Paman Sam ini? Karena entah bagaimana sejak kecil saya selalu lebih menyukai tokoh wanita dibandingkan pria. Saya lebih suka cerita yang jagoannya perempuan, atau kalau pun bukan jagoan ada sosok perempuan yang memberi pengaruh besar pada alur cerita. Saya lebih mengagumi aktris dengan kemampuan akting tinggi dibandingkan aktor yang dinobatkan sebagai pria paling ganteng seplanet bumi. Mata saya lebih berbinar menyaksikan seniman perempuan yang piawai memainkan alat musik atau berkarya di bidangnya, dibanding melihat seniman-seniman pria yang ketika beraksi disoraki para kaum hawa. Saya lebih menggemari girlband dibanding boyband. 

Apa alasannya saya lebih menyukai tokoh perempuan dibandingkan laki-laki? Karena saya adalah seorang perempuan yang punya mimpi. Saya adalah seorang perempuan yang punya ambisi dan cita-cita. Melihat kesuksekan para tokoh perempuan itu memberikan penyemangat sendiri bagi saya. Walau agak terlambat menyadari tapi saya selalu berkata pada diri sendiri "gw juga bisa mencapai level itu di bidang gw." Ya, saya terlambat menyadari kalau sebatas kagum saja tidak cukup, saya harus mencontoh dengan segera dan bukannya tenggelam dalam mimpi-mimpi kosong. Saatnya saya bangun dan mewujudkan mimpi itu, dengan penuh kesabaran dan kerja keras. Mereka juga tidak mendapatkannya secara instan. 

Lagi pula, menurut saya, jika kita (perempuan) mengagumi tokoh pria batasannya hanya sekedar "andai aku bisa jadi pasangannya," yang maaf ini cuma khayalan dan membosankan. Saya lebih suka pria yang nyata bisa saya miliki ketimbang cuma sekedar khayalan. Hehehe... Tapi ketika kita (perempuan) mengagumi tokoh perempuan lainnya maka batasanya lebih luas, karena banyak aspek yang bisa dijadikan inspirasi, dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik, "aku ingin menjadi seperti dia." Kalimat ini jauh lebih bersemangat dan nyata.

Saya ambil contoh diri sendiri saja. Ketika saya mengagumi seorang perempuan, yang ada dalam pikiran saya adalah saya ingin berkenalan dengannya, menjadi temannya, mengobrol berbagi pikiran dengannya. Saya ingin menilai apakah kapasitas saya sudah menyamainya, saya ingin mendengar kisahnya dan memetik pelajaran darinya. Saya pribadi sih merasa tidak ada yang salah dengan itu, tapi namanya manusia lebih banyak yang berpikiran negatif ketimbang positif. Rasanya terlalu naif jika kagum disamakan dengan naksir, atau suka disamakan dengan cinta, atau menggemari disamakan dengan tetarik secara seksual. I wanna be like her, I wanna be her friend, NOT I wanna be with her. 

Jadi kekaguman seorang perempuan terhadap perempuan lainnya, dalam hal ini tokoh publik, adalah sebagai bentuk visualisasi keinginan diri untuk menjadi perempuan yang diinginkan, yang tentu dapat memberikan motivasi dan inspirasi tersendiri. Entah dengan orang lain, tapi itu yang saya rasakan.

Setelah mengetahui ini adalah hal yang wajar, saya jadi tidak merasa aneh lagi. Hahaha... Tidak ada salahnya mengagumi sesuatu yang lebih indah dari kita, bukan?

Ini sumber ide dari ocehan saya di atas:
http://articles.baltimoresun.com/2005-10-09/news/0510070442_1_crushes-popular-girl-admire

Senin, 06 April 2015

Flu dan Susu Jahe

Saya ini kalau sudah kena flu yang mengkombinasikan batuk dan pilek pasti lama banget sembuhnya, apalagi kalau dalam kondisi lelah alias tidak bugar. Bisa satu bulan gak sembuh-sembuh, dan itu rasanya amat sangat membosankan. Apa yang bikin bosan? Pertama, minum obat. Kedua, tidak minum dingin. 

Meskipun saya ini anak dokter, tapi saya tidak suka ngobat. Selama saya belum merasa sangat terganggu dengan si penyakit, saya gak mau deket-deket sama obat. Tapi namanya ibu pasti tidak bisa tinggal diam, beliau akhirnya meracik obat flu khusus yang tidak mengandung obat tidur. Tiga kali sehari dalam dua minggu saya mengonsumsi obat istimewa itu, hasilnya kurang membahagiakan. Bu dokter tidak menyerah, beliau beralih pada resep tradisional. Kencur pada pagi hari, jeruk nipis pada malam hari. Satu minggu kemudian si flu mereda, tapi belum benar-benar sembuh, dan saya sudah bosan. Kencur itu getir dan jauh dari rasa enak. 

Jeda tiga minggu si flu menyerang lagi, ditambah saya masuk angin dan kecapekan, si flu tampaknya tertawa girang. Kali ini akan saya hadapi dengan cara saya sendiri. Naluri saya berkata saya harus minum susu jahe. Karena tidak banyak yang jual versi asli, saya beli versi instannya. Saya minum tiap malam sebelum tidur. Bagaimana khasiatnya? Pertama, tidur lebih cepat dan nyenyak. Kedua, flu mereda drastis dalam waktu empat hari.  Mereda ya bukan sembuh total. Hehehe....  Tapi yang pasti rasanya enyaaak.... 

Catatan tambahan, gambar di atas itu adalah tampilan penyajian yang unik ala House of Raminten di Jogja. Untuk segala jenis minuman yang mengandung susu mereka sajikan dalam cangkir berputing. Tentu saja yang ada di gambar itu adalah susu jahe pesanan saya. 

Jumat, 03 April 2015

Fast & Furious 7

Nontonnya udah dua hari yang lalu, tapi baru sempet bikin ulasannya sekarang. 

Pertama kita lihat ceritanya dulu. Dengan berat hati saya katakan "biasa ajah". Dibandingkan episode-episode sebelumnya, FF jilid 7 ini menurut saya ceritanya kurang greget. Cerita berpusat pada Deckard Shaw (Jason Statham) yang memburu Toretto and the gank. Shaw ini ceritanya musuh yang kuat dan susah dilacak. Tapi Toretto mendapatkan tawaran bantuan dari Frank Petty (Kurt Russell), dengan syarat dia mau membantu menemukan Ramsey (Nathalie Emmanuel). Ramsey ini adalah seorang programer yang menciptakan God's Eye. Dan aksi pun dimulai. 

Cerita boleh standar tapi aksinya sangat menghibur. Bagaimana tidak menghibur melihat mobil super yang konon katanya hanya ada tujuh di dunia diterbangkan dan dijatuhkan seperti kaleng minuman? Lalu adegan favorit saya adalah ketika Letty harus berhadapan dengan pengawal Pangeran yang cantik perkasa, dan keduanya berduel dalam balutan gaun lengkap dengan sepatu hak tinggi. Itu baru namanya cewek jagoan pake banget. Tapi aksi yang paling menegangkan adalah ketika Brian berlari di atas bis yang sedang jatuh ke jurang, di situ saya menahan nafas. Masih banyak lagi aksi-aksi seru dan menegangkan yang sukses menutupi plot cerita yang "biasa ajah" tadi. 

Satu hal yang sudah menjadi perhatian saya bahkan sebelum filmya dimulai adalah memperhatikan pada adegan apa saja kehadiran Paul Walker digantikan oleh teknologi. Hehehe.... Tenyata semirip apa pun tetap saja beda. 

Masuk pada bagian penilaian (sudah ngantuk berat)...

Dari 1-10, film ini Zenin kasih nilai 8. ^_^

Minggu, 15 Maret 2015

Nonton Yuk: RUN ALL NIGHT

Anak memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap orang tua. Itu kesan yang saya dapat dari film ini. 

Sepasang sahabat sejak muda, Jimmy Conlon (Liam Neeson) yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran profesional dan Shawn Maguire (Ed Harris) yang adalah seorang bos mafia, terpaksa mengakhiri persahabatan mereka setelah anak-anak mereka secara kebetulan terlibat dalam suatu masalah. 

Berawal dari Danny Maguire (Boyd Holbrook), putra Shawn yang berjanji pada sekelompok mafia asal Albania bahwa ayahnya dapat membantu mereka untuk menyelundupkan heroin. Di luar dugaan Danny, ternyata sang ayah menolak untuk bekerja sama. Si mafia Albania itu kesal dan mengancam Danny agar mengembalikan uang yang sudah terlanjur ia berikan. Sungguh suatu kebetulan, malam harinya si Albania itu menyewa limo Mike Conlon (Joel Kinnaman) untuk mengantarnya menagih uang di apartemen Danny. Rupanya Danny sama sekali tidak bermaksud untuk mengembalikan uang tersebut. Terjadilah baku tembak, Danny menghabisi kelompok mafia Albania itu, dan tanpa sengaja Mike menyaksikannya. Danny mengejar Mike sampai ke rumahnya, berniat untuk membunuhnya.  Tapi Jimmy datang dan menyelamatkan putranya dengan menembak mati Danny. Malam yang sangat panjang pun dimulai. 

Secara keseluruhan film ini bagus. Buat pecinta film aksi tembak-tembakan pasti akan menyukainya. Ingat, ini film rating dewasa, jangan bawa anak yang belum punya KTP. 

Dari 1-10, film ini Zenin kasih nilai 7,5. ^_^